Chengdu J-10

CHINESE CHENGDU J 10

PLAAF Chengdu J -10 adalah pesawat tempur multirole fighter generasi keempat buatan china yang dikembangkan sejak tahun 1988 oleh Chengdu Aircraft Industries Corporation sebagai kelanjutan dari proyek pesawat Chengdu J -9. Pada mulanya pengembangan J-10 dibantu oleh Israel dalam sisi teknologi pesawat bebobot ringan, desain aerodinamis, sistem control “fly-by-wire” terinspirasi dari prototipe pesawat tempur buatan Israel IAI Lavi. Setelah tragedi tiananmen mulai tahun 1990 china diembargo oleh Amerika serikat dan Negara Barat. Pertengahan tahun 1990 Rusia membantu pengembangan dan menyuplai mesin turbo jet Lyulka AL-31 F sebagai mesin pendorong jet.

Lyulka saturn AL-31 FN turbofan

Dan pada akhirnya, 22 Maret 1998, J-10 berhasil terbang dengan 6 unit prototipenya untuk PLA Air Force. Dan selama 5 tahun pengujian, test dan training, akhirnya Maret 2003 J-10 lulus pengujian untuk menjadi pesawat militer di China. Dioperasikan secara resmii untuk kekuatan militer China pertama kali pada Juli 2004 di Armada Udara Prov Yuanan. Sedangkan seri dua awak J-10S baru resmi di tahun 2005.

Dan selama 2004 hingga 2006, sekitar 100 unit sampel berpenumpang 1 awak dan 2 awak yang sudah diserahkan ke PLA-AF. Dan diperkirakan China membutuhkan sekitar 300 pesawat tempur untuk kebutuhan Angkatan Udara China. Kecanggihan dan harga yang lebih murah membuat negara-negara di Dunia mulai sangat tertarik untuk memesan pesawat J-10 ini, seperti Paskitan, Iran dan Thailand. Dan pada Maret 2007, Kepala St ap Angkatan Udara Pakistan memesan 32 hingga 40 unit J-10 fighter yang akan dikirim pada tahun 2009.
Akan tetapi di tahun 2005 PLA air force mencoba mengganti mesin turbo jet dengan mesin jet buatan sendiri yaitu Woshan WS-10 A Taihang turbofan yang sebelumnya diciptakan untuk prototipe pesawat tempur Shenyang J-11 dan setela h melalui serangkaian ujicoba mulai digunakan resmi mulai tahun 2006.

Woshan WS-10 A Turbofan

J-10 dapat melakukan pertempuran di udara dan serangan ke permukaan. Pesawat memiliki 11 cantelan eksternal untuk berbagai senjata. Atau dapat membawa target akuisisi, pods navigasi atau tangki bahan bakar tambahan.sedang PL-12 berpenuntun radar-homing udara-ke-udara dan roket kendali PL-8-pelacak rudal inframerah. Untuk serangan ke permukaan J-10 membawa hingga enam bom 500 kg berpemandu laser, bom konvesional 90-mm. Pesawat juga dilengkapi dengan single barrel 23-mm cannon.

J-10 dilengkapi dengan pulse-doppler fire control radar, hingga mampu melacak 10 target secara simultan dan menyerang 4 dari mereka. Perkiraan deteksi jangkauan maksimum adalah 100 km. Pesawat ini juga dilengkapi dengan fly-by wire sistem.

Varian yang sudah dihasilkan adalah :

  • J-10 A : varian pertama masih dengan mesin turbofan rusia.
  • J-10 S : varian sebagai pesawat trainer dengan single seat maupun double seat.
  • J-10 B : varian terkini dengan penyempurnaan dan mesin terbaru buatan sendiri.
  • J-10 c : varian carrier base kemungkinan powerful twin engine di masa depan.
  • FC-20 : varian terbaru yang dikembangkan bersama negara pakistan.


Airframe dan Avionik
Dibangun dari paduan logam dan material komposit untuk kekuatan dan berat rendah, tata letak aerodinamis badan pesawat itu mengadopsi konfigurasi sayap “tail-less canard delta”. Sebuah sayap delta besar dipasang ditengah ke arah belakang pesawat, sementara sepasang canards (atau foreplanes) dimuat lebih tinggi dan ke arah depan pesawat, di belakang dan di bawah kokpit. Konfigurasi ini memberikan kelincahan yang sangat tinggi, terutama pada kecepatan tinggi. Sebuah ekor vertikal besar hadir di atas pesawat dan sirip perut kecil di bawah badan pesawat memberikan stabilitas lebih lanjut.

Sebuah air intake persegi panjang terletak di bawah badan pesawat, menyediakan pasokan udara ke mesin. Juga di bawah pesawat dan sayap ada 11 cantelan, digunakan untuk membawa berbagai jenis persenjataan dan tangki tambahan berisi bahan bakar ekstra.
Landing gear terdiri dari sepasang roda kemudi di bawah air intake dan dua roda gigi utama di bagian belakang pesawat.

Kokpit ditutupi oleh dua bagian kanopicembung yang menyediakan cakupan visual 360 derajat untuk pilot. mekanisme kanopi diangkat ke atas untuk masuk dan keluar. Kontrol pesawat mengambil bentuk tongkat pusat konvensional dan tongkat throttle di sebelah kiri pilot. juga memasukkan fungsi “Hands On Throttle And Stick”(HOTAS) kontrol. Sebuah kursi ejeksi zero-zero disediakan untuk pilot, memungkinkan pelontaran aman dalam keadaan darurat bahkan pada nol ketinggian dan nol kecepatan.

Avionik
Sistem Kontrol Penerbangan
Karena desain aerodinamis J-10 tidak stabil, sistem kontrol penerbangan digital quadruplex-redundant fly-by-wire membantu pilot menerbangkan pesawat. desainer Pesawat Cina Yang Wei diklaim sebagai desainer utama sistem kontrol penerbangan fly-by-wire, meskipun hal ini dibantah oleh analisis Richard Fisher yang menyatakan bahwa konsultan Israellah yang mengembangkan sistem. kontrol komputer penerbangan menyediakan koordinasi penerbangan otomatis dan menjaga pesawat dari potensi memasuki situasi berbahaya seperti tumpahan yang tidak disengaja atau terpeleset. karena Hal ini membebaskan pilot untuk berkonsentrasi pada tugas-tugas dimaksud selama pertempuran.

Instrumen penerbangan
Informasi disediakan secara visual untuk pilot melalui tiga LCD Multi-fungsi (MFD) di kokpit. Kepala desainer panel instrumentasi penerbangan Han Zhou yang bertanggung jawab baik dari desain tampilan CRT pada tahap awal pengembangan dan desain LCD kemudian yang saat ini diadopsi oleh J-10 dalam tugasnya.

Panel layar LCD memasuki layanan paling lambat setelah tahun 2000. LCD display dan display CRT sebelumnya untuk J-10 (seperti yang dipakai WZ-10, J-11 dan JH-7) yang diproduksi oleh Suzhou Long Wind Machinery Plant, kemudian ditata ulang sebagai AVIC Radar dan Avionics Equipment Research Institut.

Selain instrumentasi penerbangan, sebuah hol ogram head up display (HUD) China juga hadir. HUD menunjukkan pentingnya penerbangan dan peperangan terkait informasi seperti isyarat penargetan. Hal ini juga dapat digunakan sebagai cakupan radar, fitur ini diyakini terinspirasi oleh HUD pesawat Rusia, yang memungkinkan pilot untuk menjaga matanya terfokus pada ketidakterbatasan saat bekerja dengan radar nya. Gambar Monokrom dari polong avionik elektro-optik (FLIR dan polong penargetan) juga dapat ditampilkan pada HUD. HUD dirancang untuk mengatasi masalah dengan HUD pesawat Rusia, yang mengalami masalah fogging signifikan ketika digun akan di zona tropis dan lembab di China, karena mereka awalnya dirancang untuk ditempatkan di daerah Artik kering / sub-zona Artik. Desain modular dari sistem HUD dan penggunaan arsitektur databus MIL-STD-1553B memungkinkan HUD asal Barat untuk diintegrasikan jika diinginkan oleh pengguna.

gambar kokpit J-10

Peperangan Elektronik
Sebuah set internal electronic counter-measures (ECM) sedianya akan hadir, yang dapat dilengkapi dengan polong jammer aktif seperti yang dilakukan BM/KG300G eksternal pada cantelan pesawat. Selain itu sebuah polong KZ900 signals intelligence (SIGINT) dapat dibawa untuk misi pengintaian.

Sebuah infra-red search and track (IRST) sistem yang dikembangkan oleh Sichuan Changhong Electric Appliance Corporation, tipe Hongguang-I (Rainbow Light-I) Electro-Optical Radar terintegrasi dengan J-10. Ini adalah generasi ketiga sistem Optronics menggunakan antenna fokus HgCdTe dengan kemampuan pencitraan infra-merah (ImIR). Menerima sertifikasi pada tanggal 3 Maret 2005 dan kemudian memasuki layanan dengan PLAAF, sistem diumumkan kepada publik satu tahun kemudian pada sebuah konferensi di provinsi Sichuan Cina, di mana sistem ini didemonstrasikan kepada pejabat yang berkunjung. Berdasarkan informasi terbatas yang dirilis, Tipe Hongguang-I memiliki jangkauan maksimum 75 km.

Meskipun Tipe Hongguang-1 ini dirancang untuk menjadi lebih ringan dan lebih kompak dibandingkan dengan sistem Rusia serupa sehingga bisa dipasang di hidung J-10 sementara meninggalkan ruang yang cukup untuk sebuah radar yang cocok, model produksi saat ini J-10 tidak memiliki cukup ruang dan harus membawa versi eksternal di salah satu cantelan pesawat. Namun, baru-baru ini merilis dari varian modifikasi dari J-10 dengan apa yang diyakini sebagai perangkat IRST dipasang ke sisi kanan atas dari hidung (tergantung Varian). Tipe Hongguang-I juga dirancang agar kompatibel dengan pesawat tempur China Shenyang J-11, Shenyang J-8 dan Xian JH-7, serta bomber Xian H-6 dan pesawat tempur China-Pakistan JF-17.

Menurut pejabat Chengdu Aircraft Industry Corporation J-10 menggunakan radar multi-mode fire-control yang dirancang di China. Radar ini memiliki mekanisme scan antena array planar dan mampu melacak 10 target. Dari 10 target dilacak, 2 dapat bergerak bersamaan dengan rudal radar homing semi-aktif atau 4 bisa aktif terlibat dengan radar pelacak rudal.

Radar diyakini dirancang oleh Nanjing Research Institute of Electronic Technology (NRIET), dengan nama KLJ-10 dan varian lebih kecil diklaim diinstal pada pesawat tempur JF-17. Dipercaya didasarkan pada teknologi dari Rusia, Israel atau kombinasi keduanya, radar harus sebanding dengan desain radar pesawat tempur Barat pada 1990-an. Ini juga mungkin akan digantikan dengan radar yang lebih maju lainnya pada versi ekspor J-10. FIAR Italia (sekarang SELEX Galileo) Grifo 2000/16, telah menawarkan kepada Pakistan Air Force untuk instalasi pada J-10, Pada tanggal 14 Juni diumumkan oleh media pemerintah China bahwa versi J-10 telah dilengkapi dengan radar array secara bertahap.

Dalam pameran teknologi militer China terkait, sebuah helmet-mounted display (HMD) sistem yang dikembangkan oleh organisasi China telah ditampilkan. Hal ini diyakini bahwa J-10 yang terintegrasi dengan sistem seperti itu untuk membantu pilot dalam penargetan pesawat musuh.J-10 juga tampil dalam foto dan model membawa FILAT (Forward-looking Infra-red Laser Attack Targeting) polong untuk penargetan sasaran laser dan Sky Blue forward looking infra-red (FLIR) polong untuk visibilitas pada penerbangan yang rendah.

General characteristics

  • Crew: 1 (basic), 2 (trainer variant)
  • Length: 15.5 m (50 ft 10 in)
  • Wingspan: 9.7 m (31 ft 10 in)
  • Height: 4.78 m (15.7 ft)
  • Wing area: 39 m² (419.8 ft²)
  • Empty weight: 9,750 kg (21,495 lb)
  • Loaded weight: 14,876 kg (32,797 lb)
  • Useful load: 4,500 kg (9,920 lb)
  • Max takeoff weight: 19,277 kg (42,500 lb)
  • Powerplant:1× Saturn Lyulka AL-31FN orWS-10A Taihang turbofan
    • Dry thrust: 79.43 kN / 89.17 kN (17,860 lbf / 20,050 lbf)
    • Thrust with Afterburner: 122.5 kN / 132 kN (27,557 lbf / 29,101 lbf)

Performance

  • Maximum speed: Mach 1.9 at altitude, Mach 1.2 at sea level
  • g-limits: +9/-3 g (+88/-29 m/s², +290/-97 ft/s²)
  • Combat radius: 550 km (341 mi)
  • Service ceiling: 18,000 m (59,055 ft)
  • Wing loading: 335 kg/m² (69 lb/ft²)
  • Thrust/weight: .89

Armament

  • Guns: 1× 23mm twin-barrel cannon
  • Hardpoints: 11 in total (6× under-wing, 5× under-fuselage) with a capacity of 6,000 kg (13,228 lb) external fuel and ordnance
  • Rockets: 90 mm unguided rocket pods
  • Missiles:
    • Air-to-air missiles : PL-8, PL-9, PL-11, PL-12
    • Air-to-surface missiles : PJ-9, YJ-9K
  • Bombs: laser-guided bombs (LT-2), glide bombs (LS-6) and unguided bombs
  • Others:
    • Up to 3 external fuel drop-tanks (1× under-fuselage, 2× under-wing) for extended range and loitering time

Avionics

  • NRIET KLJ-10 multi-mode fire-control radar
  • Externally-mounted avionics pods:
    • Type Hongguang-I infra-red search and tracks pod
    • BM/KG-300G self protection jamming pod
    • KZ-900 electronic reconnaisance pod
    • Blue sky navigation/ attack pod
    • FILAT (Forward-looking Infra-red Laser Attack Targetting) pod

Ada empat kecelakaan diketahui dari J-10 sampai saat ini. Yang pertama adalah kecelakaan dari pesawat tempur prototipe selama pengujian pada tahun 1998 dengan penyebab yang paling mungkin disebut sebagai kegagalan sistem kontrol penerbangan fly-by-wire.
Pada tahun 2007, kecelakaan kedua terjadi dekat Guilin yang melibatkan J-10 dari PLAAF Divisi 2. Sebuah kecelakaan ketiga terjadi pada bulan Agustus 2009 ketika pilot Meng Fansheng dipaksa untuk keluar dari pesawat ketika mesin pesawat mati tiba-tiba. Sebuah penyelidikan resmi oleh PLAAF juga memperkirakan bahwa kecelakaan itu akibat kegagalan mesin AL-31F pada pesawat.

Sebuah kecelakaan pesawat yang keempat terjadi pada tanggal 22 April 2010 ketika suatu tugas aktif J-10 dari PLAAF jatuh membunuh Kolonel Senior. Sebuah laporan bahwa pemerintah China berusaha untuk menutupi kecelakaan tetapi tidak mampu melakukannya saat pemakaman untuk pilot menjadi terkenal dan diterbitkan oleh website Professional Pertahanan Jerman. Selain itu, dilaporkan bahwa pada tanggal 7 Maret 2009 dalam tugas aktif J-10 mengalami kegagalan dari semua avionik onboard selama latihan taktis Namun pilot pesawat terbang, Letnan Kolonel Li Feng dapat mendarat dengan aman. Pilot mengutip penyebab kegagalan avionik adalah asap di kokpit kemungkinan dihasilkan oleh mesin yang bocor dari sistem kontrol lingkungan.

Seringkali informasi dan data mengenai Pesawat tempur China relatif berbeda dikarenakan tertutupnya akses dari pihak luar untuk bisa mendapatkan informasi dari dalam. kontrol ketat baik dalam birokrasi maupun akses media elektronik serta internet membuat akses ke Infrastruktur pemerintahan bersifat sangat rahasia. dan Chengdu J-10 digadang – gadang sebagai proyek prestisius PLAAF dengan teknologi pesawat generasi 4+ dengan kemampuan stealth.

gambar prototipe J-10

gambar Chengdu J-10AY

gambar Chengdu J-10SY

gambar Chengdu J-10A

gambar Chengdu J-10S

Sumber tulisan dan gambar :
* Wikipedia
* Military-today
* Airliners.net

Leave a comment »

PLAAF J-20 Stealth Fighter Maiden Flight

picture by China-defense.blospot.com

Akhirnya sebuah gambar menggembirakan, J-20 berhasil melakukan terbang perdana dengan dikawal pesawat tempur J-10S, tidak tahu jenis mesin apa yang dipakai, tunggu terus kabar terbaru dari proyek paling prestisius PLAAF J-20 Stealth Fighter.

PLAAF J-20 Stealth Fighter

Antusias penggemar Alutsista China akan penampakan prototipe J-20 sangat besar seperti yangterlihat sebagai berikut :

Penggunaan mesin jet yang berbeda untuk menguji bakal calon mesin penggerak J-20 :

Sebagaimana tampak digambar prototipe menggunakan dua mesin jet yang berbeda yaitu Woshan WS-10A buatan mereka sendiri dan AL-31F buatan Rusia, kita tunggu saja hasilnya.

PLAAF J-20 Stealth Fighter

Penampakan pertama dari pesawat tempur PLAAF J-20


Menyadur berita dari China-defense.blogspot.com

It was a most unexpected Christmas gift to PLA watchers, the first clear photos of China’s next-generation stealth fighter. Variously attributed as J-14, J-20, J-XX and other nomenclature, the new fighter has been seen performing high-speed taxi trials within view of public passersby. Perhaps an attempt at international transparency, perhaps a tantalizing leak for a Chinese public increasingly proud of its emerging military might, the disclosure of the existence of the new fighter is the roaring revelation of the Year of the Tiger.

From CDF Member “Mr. Unknown”:
Photo releases in the past few days of the PLAAF’s 4th generation J-14 fighter (5th generation by western categorization) have generated substantial interest in the PLA enthusiasts’ community. They also seem to give a degree of credibility to recent assessments made by US SecDef Robert Gates, who predicted China’s deployment of stealth fighters by 2020, and by Jane’s, whose recent article vaguely stated that China’s J-XX and Russia’s PAK-FA fighter programs have reached unspecified “year-end milestones”.

One question of great interest to PLA watchers is what type of engine this J-14 prototype will use. It is widely speculated that China’s domestic engine development programs remain inadequate for producing the wide array of aircraft being produced in China. The upgraded H-6 bombers use Russian D-30KP engines, JF-17 uses RD-93s, the J-10s use AL-31FNs, and until recently, the J-11s also relied on AL-31s. Thus heavy reliance on Russian engines is likely to continue. Unconfirmed Russian media reports and Jane’s claimed that Russia provided 117S engines – the same used for its own PAK-FA fighter – for the current J-14 prototype, but this author is skeptical as to whether Russia would be willing to sell to China its best available engine, given its perception that China frequently reverse engineers Russian military technology. On the other hand, the use of indigenous WS-15 engines remains equally implausible, for it is unlikely that this relatively new and immature model would be ready for use on an experimental aircraft.

Nantikan berita selanjutnya dari Proyek paling prestisius dari PLAAF…..Stealth Fighter !

screen shots lagi dari J-20

Rumor dari Chengdu Aerospace Corporation (CAC) China bahwa penerbangan dari prototipe pesawat tempur generasi kelima China akan terus berlangsung sampai akhir tahun, kabarnya dua prototipe 2001 dan 2002 ( seperti yang tampak dalam foto ) telah dirakit di pabrik no 132 Chengdu Aerospace Corporation.
Dibawah ini adalah maket yang kemungkinan dari kokpit J-20 dari Zhuhai Airshow :

Leave a comment »

Eurofighter Typhoon

Eurofighter Typhoon

Eurofighter Typhoon adalah pesawat tempur multirole generasi keempat dengan desain sayap Delta dan Canard buatan konsorsium bersama negara-negara Eropa dalam Eurofighter GmbH, Holding Company Eurofighter GmbH terdiri atas tiga perusahaan aeronautical ternama seperti Alenia Aeronautica (Itali), BAE System (United Kingdom), EADS ( Perancis, Jerman dan Spanyol) yang dibentuk mulai tahun 1986. Proyek tersebut dikelola oleh NATO Eurofighter and Tornado Management Agency. Sampai saat ini Typoon sudah dipakai di British Royal Air Force, German Luftwaffe, Italian Air Force, Spanish Air Force dan Austrian Air Force serta Saudi Arabia telah meneken kontrak pembelian senilai U.S$ 9.5 billion untuk 72 unit pesawat berbeda dengan Dassault Rafale yang belum menghasilkan kontrak di satu negarapun meskipun pengembangannya dilakukan bersama-sama pada awalnya.
Sejarah pengembangan
Pada tahun 1979 British Aerospace dan Messerschmitt Bolkow Blohm menawarkan proposal resmi kepada pemerintah masing-masing untuk membentuk ECF (European Collaborative Fighter), dan pada bulan oktober 1979 Dassault bergabung dan membentuk tri national study yang kemudian dikenal sebagai European Combat Aircraft sebagai awal mula pengembangan pesawat dan nama Eurofighter pun melekat dalam diri pesawat. Akan tetapi masing-masing membuat prototipe sendiri-sendiri, Perancis dengan ACX, Inggris dengan P.106 ( Desain pesawat tempur ringan bermesin tunggal/ yang mirip dengan Jas 39 Gripen ) dan P.110 ( Desain mesin ganda ), namun Royal Air Force menolak desain P.106 karena alasan efektifitas biaya dengan mesin ganda. Jerman barat membuat konsep TFK-90, namun pada tahun 1981 proyek ECA bangkrut dikarenakan berbagai alasan dan perbedaan kebutuhan, Dassault mendesak untuk memimpin desain dan meminta Inggris untuk memberi referensi menggunakan mesin jet RB-199 yang baru atau mesin jet Snecma M88 mereka. Pada bulan april 1982 Panavia partners (BAE, MBB, Aeritalia) meluncurkan program ACA lagi, desain ACA sangat mirip dengan konsep P.110 BAE, memiliki sayap Delta, adanya Canard dan ekor kembar dan perbedaan yang mencolok adalah penggantian saluran udara (air intake) di samping menjadi posisi di dagu pesawat, mesin menggunakan versi modifikasi dari mesin jet RB199. Pemerintah Jerman dan Italia menarik dana dan Departemen pertahanan Inggris setuju untuk mendanai 50% dan sisanya akan ditanggung oleh Industri yang terlibat didalamnya. MBB dan Aeritalia ikut mendaftar untuk menghasilkan dua pesawat, satu di Warton dan satu di MBB, Pada bulan mei 1983 BAE mengumumkan kontrak dengan Kementrian pertahanan untuk pengembangan dan produksi sebuah ACA demonstrator atau Experimental Aircraft Programme.

gambar prototipe BAE P.110

Pada tahun 1983 Inggris, Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol meluncurkan program Future European Fighter Aircraft (FEFA), pesawat ini memiliki sistem STOL (Short Take Off and Landing) dan kemampuan BVR (Beyond Visual Range), pada tahun 1984 Perancis meminta kemampuan lebih pada pesawat dan ingin mendominasi kepemimpinan dan hasilnya Inggris, Italia dan Jerman keluar dan membentuk program FEFA sendiri. Di turin agustus 1985 Italia, Jerman barat dan Inggris setuju unutk meneruskan program Eurofighter, pengunguman ini menegaskan juga bahwa perancis dan spanyol tidak ikut serta dalam program, meskipun pada awalnya spanyol tidak ikut karena tekanan perancis namun spanyol bergabung kembali pada september 1985. Perancis secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dan meneruskan program pesawat ACX lagi yang kemudian kita kenal dengan Dassault Rafale. Pada tahun 1986 diumumkan biaya program mencapai £180 million, dan ketika program EAP dimulai seharusnya biaya ditanggung bersama oleh pemerintah dan tiga industri terkait akan tetapi perjanjian ketiga pemerintah mulai goyah dan tiga industri (BAe, MBB dan Aeritalia) terpaksa mengeluarkan £100 million agar program tetap berjalan, pada bulan april 1986 BAe EAP dikeluarkan di BAe Warton dan sebagian didanai oleh BAe, MBB dan Aeritalia. EAP pertama kali terbang pada 6 agustus 1986 dan dengan berbagai riset dan pengembangan selama 5 tahun konsep Eurofighter didasarkan pada desain EAP. Perjanjian produksi awal adalah Inggris 250 unit, Jerman 250 unit, Itali 165 unit dan Spanyol 100 unit, bagian dari proses produksi dibagi atas proporsi industri di tiap-tiap negara, BAe (33%), DASA (33%), Aeritalia (21%) dan CASA (13%). Munich tahun 1986 Eurofighter Jagdflugzeug GmbH didirikan untuk mengelola pengembangan proyek dan Eurojet Turbo GmbH sebuah aliansi dari Roll Royce, MTU Aero engine, Fiat Avio dan ITP untuk mengembangkan mesin jet EJ-200 Turbofan, Pesawat ini juga disebut Eurofighter EFA diakhir tahun 1980 dan dinamakan EF 2000 pada tahun 1992.
gambar mesin jet EJ 2000 Turbofan

Pada tahun 1990 pemilihan Radar pesawat menjadi masalah serius, Inggris, Italia dan Spanyol mendukung Ferranti Defence System / ECR-90 sedangkan Jeman memilih MSD 2000 berbasis APG-65 ( buatan Hughes, AEG dan GEC-Marconi). Sebuah kesepakatan dicapai setelah Menteri pertahanan Inggris meyakinkan pihak Jerman bahwa pemerintah Inggris akan menanggung biaya dan mengikutsertakan GEC-Marconi ke dalam Ferranti Defence System sehingga GEC menarik diri dari pengembangan MSD 2000. Penerbangan perdana prototipe Eurofighter berlangsung pada 27 maret 1994, Peter Weger kepala pilot penguji dari DASA melakukan uji penerbangan di sekitar Bavaria, dan pada 9 desember 2004 prototipe Eurofighter Typoon IPA4 menjalani tiga bulan test Cold Environmental Trial (CET) di pangkalan udara Vidsel, Swedia. Tujuannya adalah menverivikasi perilaku operasional pesawat dan sistem dalam suhu antara -25 dan -31 derajat celecius. Pada Mei 2007 Eurofighter Development Aircraft 5 berhasil terbang perdana menggunakan CAESAR Demonstrator yang merupakan pengembangan dari Euroradar CAPTOR digabung dengan teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array). Penerbangan perdana IPA7 telah lengkap dalam tahap kedua di lapangan terbang EADs Manching pada 16 januari 2008. Produksi Versi radar CAPTOR-E sedang diusulkan untuk tahap ketiga produksi Typoon mulai tahun 2012 , tahap kedua tidak menggunakan AESA, mekanikal scan radar CAPTOR-M mencakup ketentuan berat dan ruang yang memungkinkan untuk meng-upgrade CAESAR(AESA) Standart di masa depan. Angkatan Udara Italia meragukan bahwa radar AESA akan siap pada tahap ketiga produksi, pada bulan juli 2010 Eurofighter mengungumkan bahwa radar AESA akan mulai digunakan pada tahun 2015.

gambar radar ECR-90 CAPTOR dan AESA

gambar prototipe CAESAR
Kontrak produksi pertama di tandatangani pada tanggal 30 januari 1998 antara Eurofighter GmbH, Eurojet dan NETMA, jumlah total pengadaan adalah sebagai berikut : Inggris 232 unit, jerman 180 unit, Italia 121 unit dan Spanyol 87 unit. Produksi kembali di alokasikan menurut pengadaan, BAe (37%), DASA (29%), Aeritalia (19,5%) dan CASA (14%). Pada tanggal 2 september 1998 Upacara penamaan diadakan di Farnborough Inggris, diberi nama resmi Typhoon tapi hanya versi export saja pada awalnya tapi ditentang oleh Jerman karena sama dengan nama pesawat Hawker Typoon pesawat pembom RAF waktu perang WWII dengan Nazi jerman, diusulkan lagi nama Splitfire namun ditolak lagi dengan alasan ada nama pesawat yang sama. Pada September 1998 ditandatangani kontrak untuk produksi 148 unit pesawat pada tranche (tahap produksi) pertama dan pengadaan barang yang relatif lama sampai Tranche kedua, pada bulan maret 2008 pesawat terakhir dari tranch pertama telah dikirim berturut-turut ke Luftwaffe Jerman sebelum tranche kedua dan pada 21 oktober 2008 pesawat pertama dari order 91 pesawat pada tranche kedua telah dikirim ke RAF Coningsby. Pada bulan oktober 2008 negara -negara anggota Eurofighter mempertimbangkan untuk membagi 236 unit pesawat dalam Tranche ketiga menjadi dua tahap di bulan juni 2009. Marsekal Udara RAF Sir Glenn Torpy menyarankan bahwa armada RAF mungkin hanya 123 jet dari 232 unit yang direncanakan, dalam menanggapi pengurangan jumlah pesawat PM Inggris Gordon Brown menegaskan Inggris akan bergerak maju pada pembelian batch ketiga. Sebuah kontrak untuk bagian pertama tranche 3a ditandatangani di akhir juli 2009 untuk 112 split pesawat untuk empat negara mitra, Inggris 40 unit, Jerman 31 unit, Italia 21 unit dan Spanyol 20 unit. 40 pesawat ini dikatakan menutupi saham Inggris dalam proyek oleh Komodor Udara Chris Bushell dikarenakan biaya lebih yang diberikan dalam proyek. Pada tahun 1988 Parlemen di bawah sekretaris negara angkatan bersenjata inggris mengatakan kepada House of Commons bahwa Eurofighter akan menjadi proyek besar, biaya inggris sebesar £7 milliar namun perkiraan realistisnya sekitar £13 milliar, terdiri atas £3.3 miliiar biaya pengembangan plus £30 juta per pesawat, pada tahun 1997 perkiraan biaya adalah £17 milliar, tahun 2003 £20 milliar dihitung dari pengiriman pesawat pertama ke RAF selama 54 bulan namun pada tahun 2003 Departemen pertahanan menolak untuk merilis perkiraan biaya dengan alasan ketidaketisan. Pada 21 november 2003 prototipe kursi ganda DA-6 jatuh karena mesin jet terbakar kata penyelidikan dari sumber yang terkait namun tak ada korban jiwa. Produksi Eurofigter Typoon termasuk unik karena perakitan bagian pesawat dilakukan di empat negara mitra, negara mitra merakit pesawatnya sendiri-sendiri tapi memproduksi komponen yang sama dalam produksi 683 unit pesawat termasuk order export. sebuah jalur perakitan kelima akan dibentuk untuk memproduksi 48 unit pesanan Arab Saudi.
Pembagian kerja produksi :
* Alenia Aeronautica : Left wing, outboard flaperons, rear fuselage sections.
* BAE System : Front fuselage(including foreplanes), canopy, dorsal spine, tail fin, inboard flaperons, rear fuselage section.
* EADS Deutschland : Main centre fuselage.
* CASA : Right wing, leading edge slats.
Airframe dan Avionik
Eurofighter Typhoon menggunakan konstruksi ringan terdiri atas 82% komposit yang terdiri atas 70% komposit serat karbon dan 12% kaca bertulang komposit dengan umur diperkirakan selama 6000 jam terbang. Pesawat dapat mencapai kecepatan supersonik dan rendah dengan kelincahan yang tinggi berkat adanya sistem kontrol quadruplex digital fly-by-wire yang memberikan stabilitas buatan karena pengoperasian manual saja tidak cukup, juga sebagai peringatan kepada pilot agar tidak melakukan manuver yang berbahaya. Roll kontrol ini dicapai dengan menggunakan flaperon sayap, kontrol pitch adalah dengan operasi foreplanes dan flaperons, kontrol yaw dengan kemudi. kontrol permukaan dipindahkan melalui dua sistem hidrolik independen yang tergabung dalam pesawat yang juga menyediakan berbagai barang lainnya seperti rem, kanopi dan roda pesawat. setiap sistem hidrolik didukung oleh mesin gearbox yang bertenaga 4000 psi. Navigasi bisamenggunakan GPS dan sistem navigasi inersial, Typhoon juga menggunakan ILS (Instrument landing System) untuk mendarat dalam cuaca yang buruk. Pesawat menggunakan sistem pertahanan terintegrasi Aids sub-Sytem bernama Praetorian (sebelumnya disebut EuroDASS), threat detection menggunakan Radar Warning Receiver (RWR) dan Laser Warning Receiver(LWR) namun hanya ada di Typhoon versi inggris saja dan perlindungan pesawat menggunakan Chaff, Jaff dan Flares, Electronic Counter Measures (ECM) dan Towed Radar Decoy (TWD). Praetorian memantau dan merespon secara otomatis dunia luar, ini memberikan pilot dengan penilaian prioritas serba udara ke udara dan ancaman udara ke permukaan serta dapat merespon ancaman tunggal maupun ganda. Pesawat juga dilengkapi dengan sistem peringatan jarak ke tanah TERPROM Terrain Referenced Navigation (TRN) seperti yang digunakan pada Tornado Panavia tetapi lebih ditingkatkan dan terintegrasi kedalam display kokpit. Multifunctional Information Distribution System (MIDS) menyediakan 16 data link. Eurofighter Typhoon mempunyai kokpit kaca tanpa instrumen konvesional termasuk tiga display berwarna Multi-function Head Down Display (MHDDs) (dengan format yang dimanipulasi menggunakan sotkeys, kursor XY dan perintah suara (DVI)), Head Up Display (HUD) yang lebar dengan FLIR (Forward Looking Infra Red), Voice and Hands on Throttle and Stick ( voice + HOTAS), Helmet Mounted Symbology System (HMSS) atau juga dikenal sebagai ” Electric Hat”, Multi Function Information Distribution System (MIDS), Manual Data Entry Facility (MDEF) yang terletak di glareshield kiri dan sistem peringatan pesawat terintegrasi Dedicated Warnings Panel (DWP), Reversionari instrumen terbang dengan lampu LED yang terletak di bawah kanan glareshield berengsel. Pilot pesawat menggunakan sebuah tongkat utama di tengah dan tongkat Throttle di tangan kiri, emergency exit menggunakan kursi lontar Martin Baker dengan dua motor roket.


gambar kokpit, helm dan ejection seat
DVI sistem Typhoon memanfatkan Speech Recognition Modules (SRM) yang dikembangkan oleh Smiths Aerospace (sekarang menjadi GE Aviation System) kemudian dikembangkan oleh Computing Devices (sekarang menjadi General Dynamics UK) itu adalah DVI sistem pertama yang digunakan dalam kokpit militer, DVI menyediakan pilot dengan mode alam tambahan komando dan kontrol atas sekitar 26 fungsi non-critical kokpit untuk mengurangi beban kerja pilot, meningkatkan keselamatan pesawat dan memperluas kemampuan misi. Sebuah terobosan teknologi penting selama perkembangan DVI terjadi pada tahun 1987 ketika Texa Instruments memproduksi TMS-320-C30 Digital Signal Processor (DSP), kemajuan besar dalam kemasan DVI dari sistem besar yang komplex untuk sebuah kartu modul tunggal. Awal kemajuan yang bisa meningkatkan kemampuan sistem, proyek ini dilanjutkan di bulan juli 1997 dengan pengembangan dan penilaian pilot di Eurofighter Active Cockpit Simulator BAE System warton. Sistem DVI adalah Speaker tergantung yang mengharuskan setiap pilot untuk membuat template, hal ini tidak digunakan untuk tugas-tugas keselamatan dan senjata yang kritis seperti menurunkan senjata atau membuka pintu bawah tapi digunakan untuk fungsi kokpit yang lain. Perintah suara dikonfirmasi oleh umpan balik pengelihatan dan pendengaran, sistem ini dipandang sebagai fitur desain utama dalam mengurangi beban kerja pilot dan bahkan memungkinkan pilot untuk menetapkan target untuk dirinya dengan dua perintah sederhana atau ke salah satu wingman dengan hanya lima perintah. Dalam pesawat standart proteksi G force disediakan oleh pakaian Full Cover Anti G Trousers (FCAGTs), ini spesial dikembangkan untuk memberi perlindungan hingga tekanan 9G. Pilot Typhoon angkatan udara Jerman dan Austria mengenakan setelan G hidrostatis bernama Libelle (Dragonfly) Multi-G plus yang juga memberikan perlindungan ke lengan, secara teoritis memberikan toleransi yang komplex terhadap tekanan G.


gambar setelan Libelle

gambar setelan yang dipakai RAF

Desain kokpit telah melibatkan masukan dari dua pengujian dan pilot operasional dari masing-masing negara mitra tentang tahap kelayakan dan konsep selama proses desain, hal ini mengharuskan penggunaan pencahayaan khusus dan fasilitas simulasi permodelan serta teknik pengerjaan prototipe secara luas dengan cepat. Passive Infra Red Airbone Track Equipment (PIRATE) merupakan sistem pencari infrared dan sistem pelacak (IRST) yang dipasang di badan pesawat didepan kaca depan. SELEX Galileo adalah kontraktor utama bersama Thales Optronics (sistem otoritas teknik) serta Tecnobit dari spanyol untuk membentuk konsorsium EUROFIRST bertanggung jawab untuk desain sistem dan pengembangan. PIRATE beroperasi di IR dual band, 3-5 dan 8-11 micrometer. bila digunakan dalam peran udara ke udara berfungsi sebagai pencari infrared dan sistem pelacak memberikan target deteksi pasif dan pelacakan, dalam peran udara ke permukaan ia melakukan identifikasi sasaran dan akuisisi. hal ini juga bisa memberikan bantuan navigasi dan pendaratan karena PIRATE terhubung langsung ke layar helm pilot. PIRATE mulai digunakan pada tranche pertama Block 5 dan Typhoon pertama yang menggunakan PIRATE-IRST dikirimkan ke angkatan udara Italia pada bulan agustus 2007, kemampuan penargetan yang lebih canggih dapat disediakan dengan penambahan targeting pod seperti halnya LITENING pod.

gambar PIRATE-IRST pada Typhoon block 5

gambar Litening pod bisa dipasang di fuselage atau disayap

Pada tahun 2004 Kepala Staff Angkatan udara Amerika Serikat Jenderal John P Jumper mencoba Eurofighter Typhoon dan mengatakan ” aku telah terbang dengan berbagai jet tempur tapi tak ada yang sebaik Eurofighter Typhoon “. Performa tempurnya setara dengan F-22 Raptor atau F-35 Lightning II ataupun sama Dassault Rafale dan banyak menjadi bahan diskusi pada maret 2005, orang hanya bisa memilih antara Raptor atau Typhoon saja katanya dalam wawancara tentang kedua pesawat tersebut. Namun sulit rasanya membandingkan kedua pesawat tersebut karena Raptor kayaknya masih diatas Typhoon teknologinya. Pada bulan juli 2007 Eurofighter Typhoon RAF diikutsertakan dalam latihan Indra-dhanush di India melawan pesawat tempur Sukhoi 30-MKI milik Angkatan Udara India namun IAF melarang pilot untuk menggunakan radar MKI dengan alasan sangat rahasia, dan RAF mengakui bahwa manuver sukhoi lebih baik dari typhoon karena mereka sudah mempelajarinya sebelumnya dan pilot IAF pun terkesan dengan kelincahan Typhoon di udara. Typhoon mampu mencapai kecepatan supersonik tanpa afterburner, ini disebut supercruise. menurut website resmi dari Angkatan Udara Jerman dan Austria Typhoon mampu mencapai kecepatan maksimum Match 1,2 dan 1,5 tanpa rehat sekalipun dan hasil test dari RAF terhadap pesawatnya mampu mencapai Match 1,1 supercruise namun itu hanya sugesti dan menurut laporan sumber lain mengatakan bahwa kecepatan itu hanya bisa dicapai karena pesawat dalam keadaan kosong tanpa muatan namun mereka membantah bahwa faktanya tidak semua senjata perlu bersertifikat untuk penerbangan supersonik sekalipun dengan afterburner. Konsorsium Eurofighter memiliki tingkat kecepatan subsonik dan supersonik yang lebih besar, akselerasi yang lebih cepat Match 0,9 pada ketinggian 20.000 kaki daripada F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F/A-18 Hornet, Mirage 2000, Rafale, Sukhoi SU-27 maupun Mikoyan Mig-29. Pada 2005 trainer Typhoon T1 dilaporkan terlibat dogfight dengan dua F-15 US Air Force dekat new england dan menang meskipun perlu verifikasi tentang berita ini, dan di Singapura 2005 juga Typhoon memenangkan tiga test pertempuran dengan tiga F-16 RSAF, perlu verifikasi juga. namun Singapura tetap melanjutkan pembelian F-15 karena ketidakpastian pengiriman Tranche kedua. Dengan kemampuan air to ground capabilty RAF menggunakan Rafael (Ultra Electronics Litening III Laser Designator) dan Enhanced Paveway II/III Laser Guided Bomb serta Paveway IV EGBU-16 Bombs dalam “Austere” program. Meskipun bukan pesawat siluman Typhoon berusaha untuk mengurangi Radar Cross Section (RCS) terutama dari bagian depan, sebagai contoh adalah adanya lubang jet yang menyembunyikan bagian depan mesin jet, desain canard, sayap dan sirip tepian sayap yang bertugas menyapu penerimaan radar, beberapa senjata eksternal dipasang di bagian semi tersembunyi didalam badan pesawat sebagian juga berfungsi sebagai perisai rudal, Radar Absorbent Materials (RAM) dikembangkan oleh EADS/DASA melindungi banyak reflektor penting seperti wing leading edges, intake edges and interior, rudder surround, strakes dll. Typhoon tidak menggunakan penyimpanan senjata internal tapi menggunakan External mounting points yang berfungsi untk meminimalkan penerimaan radar tapi juga bisa membawa muatan lebih banyak. Eurofighter menggunakan Automatic Emission Control (EMCON) untuk mengurangi emisi elektro magnetic dari arus mekanis pemindai radar, Captor-M adalah radar pertama NATO dengan tiga dari dua chanel yang bekerja salah satunya berfungsi mengenali Jammer dan menekan jamming. Rencana jerman dalam BW-Plan 2009 mengindikasikan bahwa jerman akan membekali atau meretrofit Eurofigternya dengan AESA-Captor-E mulai 2012, inovasi ini juga untuk memenuhi persyaratan RAF untuk memindai bidang yang lebih luas tapi tetap dibatasi sampai 120 derajat di Azimut dan elevasi. Menurut RAF RCS Eurofighter lebih baik dari persyaratan yang ditentukan oleh RAF, komentar dari BAE System menunjukkan kembalinya radar sekitar seperempat dari Tornado. Eurofighter diperkirakan memiliki RCS kurang dari satu meter persegi dalam konfigurasi bersih oleh penulis Doug Ricardson meskipun tidak ada nilai resmi tersedia, hal ini dibandingan dengan estimasi RCS Rafale dari dua meter persegi, 20 meter persegi dari Sukhoi SU-30MKI, 1 meter persegi dari Sukhoi SU-35BM dan 0,025 persegi dari F-117. Para produsen telah melakukan test pada Eurofighter Prototipe awal untuk mengoptimalkan karakteristik observability rendah pesawat pada awal 1990-an. Pengujian di fasilitas BAE Warton pada prototipe DA4 mengukur RCS pesawat terbang dan meneliti efek dari berbagai lapisan RAM, ukuran lain untuk mengurangi penemuan adalah penggunaan sensor pasif yang dapat meminimalkan radiasi emisi elektronik berbahaya sementara canard umumnya memiliki sedikit karakteristik siluman. Sistem kontrol penerbangan dirancang untuk meminimalkan RCS dalam penerbangan, mempertahankan elevon trim dan canard disudut untuk meminimalkan RCS. Pada tanggal 4 agustus 2003 Jerman menerima seri produksi Eurofighter pertama (GT003) juga pada tahun itu Spanyol mengambil pengiriman pesawat produksi pertama dan pada 16 desember 2005 Typhoon mencapai kemampuan operasional awal atau IOC dengan angkatan udara Italia, Typhoon pun sudah bertugas sebagai pesawat tempur di Grosseto Air Base dan segera ditugaskan sebagai pemukul cepat siaga di base yang sama. Pada tanggal 9 agustus 2007 Departemen Pertahan Inggris melaporkan bahwa Skuadron no XI dari RAF berdiri sebagai skuadron pertama Typhoon pada tanggal 27 maret 2007 telah menerima pengiriman dua pesawat pertama, dua pesawat dari skuadron XI dikirim untuk mencegat Tupolev TU-95 Rusia mendekati wilayah udara Inggris pada 17 agustus 2007. Typhoon RAF telah dinyatakan siap tempur untuk misi udara ke darat pada 1 juli 2008 dan di proyeksikan akan siap untuk digunakan dalam operasi pada pertengahan 2008, pada 25 april 2008 Typhoon dari Skuadron 17 di RAF Coningsby yang beroperasi di U.S Naval Air Weapons Station China Lake Test Center di California dilaporkan mengalami kerusakan parah saat mendarat ketika landing gear tapi perusahaan memberitakannya dan sebuah dewan penerangan dibentuk untuk menyelidiki kejadian tersebut dan menyatakan penyebab kecelakan pada kesalahan pilot semata. Pada tanggal 11 september 2008 dilakukan program test penerbangan yang diikuti oleh lima mitra angkatan udara dan industri dimana pesawat telah melampaui 50.000 jam penerbangan. pada tanggal 31 maret 2009 Typhoon pertama kali meluncurkan Rudal AMRAAM dengan radar pada mode pasif, data sasaran yang diperlukan untuk rudal tersebut diperoleh dari radar Typhoon kedua dan dikirimkan menggunakan Multi Functional Information Distribution System ( MIDS). Pada tanggal 17 juli 2009 Eurofigter Angkatan Udara Italia dikerahkan untuk melindungi wilayah udara Albania dan pada september 2009 4 Typhoon RAF dikerahkan RAF Mount Pleasant menggantikan F3 Tornado untuk membela kepulauan Falkland dan pemerintah Argentina pun mengeluarkan protest resmi. pada tanggal 24 agustus 2010 proyek Eurofighter terancam berakhir dikarenakan adanya insiden kecelakaan jatuhnya pesawat Typhoon dua kursi yang menewaskan seorang Pilot Angkatan Udara Saudi Arabia yang duduk dikursi depan tanpa ada alasan yang jelas saat lepas landas di Moron Air Base Spanyol dan dugaan ahli adanya serangan burung yang menyebabkan kerusakan pada sensor penting pesawat, Pilot Instruktur dari spanyol selamat setelah berhasil meloloskan diri lewat kursi lontar setelah kejadian itu Angkatan Udara Jerman menggrounded sekitar 55 pesawat Typhoonnya pada 16 september 2010 dan pada 17 september 2010 RAF mengistirahatkan sementara program latihan Typhoon namun unit pemukul cepat tetap disiagakan. Pada 21 september 2010 RAF melakukan pembenahan pada sistem keselamatannya untuk tetap melakukan penerbangan rutin di RAF Coningsby. Angkatan Udara Austria juga tidak terpengaruh dengan kejadian tersebut dan tetap mensiagakan Typhoonnya untuk terbang. Eurofighter Typhoon diproduksi dalam dua varian, varian kursi tunggal dan kursi ganda namun varian kursi ganda hanya untuk versi trainer saja. Pesawat diproduksi dalam tiga standar utama , Tujuh Development Aircraft (DA), Tujuh produksi standart Instrumented Production Aircraft (IPA) untuk pengembangan lebih lanjut dan Seri Pesawat Produksi. Produksi pesawat dilakukan di Empat negara mitra dan industri. Tranche pertama produksi pesawat dimulai dari tahun 2000 dan kemampuan pesawat meningkat secara bertahap dengan upgrade masing-masing Software yang menghasilkan standar yang berbeda-beda dan dikenal sebagai Block, dengan diperkenalkannya standart Block 5, retrofit program R2 akan membawa semua pesawat ke model standart.
Tranche 1
Block 1 : kemampuan operasional awal dan kemampuan pertahanan udara.
Block 2 : kemampuan udara ke udara awal.
Block 2b : kemampuan penuh udara ke udara.
Block 5 : kemampuan penuh untuk udara ke udara dan udara ke tanah.
Tranche 2
Block 8 : komputerisasi misi baru yang diintegrasikan dengan senjata masa depan seperti Meteor, Storm shadow dan Taurus ( perubahan teknologi produksi dari tranche 1).
Block 10 : Software baru EOC 1 (multi role step 1 terdepan), AIM-120C-5 AMRAAM, IRIS-T Digital, A2G: GBU-24 GPS Controlled weapons, ALARM, Paveway III & IV, Rafael Litening III. Block 15 : Software EOC 2 (multi role step 2 terdepan), A2A Meteor A2G : Taurus, Storm Shadow, Brimstone.
Tranche 3
Pesawat akan memiliki interface untuk perbaikan dimasa depan tapi akan diberikan pada tranche kedua level kemampuannya.

Angkatan Laut India telah meminta informasi mengenai varian kapal induk Eurofigter dan mengumumkan untuk kontes tender M-MRCA (Medium Multi Role Combat Aircraft) dimana Eurofighter bersaing dengan Dassault Rafale, F-16 IN Block 52, Jas 39 Gripen, F/A-18 E/F Superhornet dan MIG-35.
Armament
* Guns : 1 x 27 mm Mauser BK-27 Revolver cannon with 150 rounds.
* Hardpoints : total 13 : 8 dibawah sayap, 5 dibawah fuselcage dgn beban angkut max 7500 kg. * Missiles :
* Air to Air Missiles : AIM-9 Sidewinder, AIM-132 ASRAAM, AIM-120 AMRAAM, IRIS-T, MBDA Meteor.
* Air to Surface Missiles : AGM-65 Maverick, AGM-88 HARM, Storm Shadow/Scalp EG, Brimstone, Taurus KEPD 350, Penguin dan AGM Armiger.
* Bombs : Paveway II/III/ Enhanced Paveway Laser Guided Bombs, JDAM, HOPE/HOSBO.
* Perangkat lain :
* Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod.
* Electronics Counter Measures (ECM) pods.
* Litening III Laser targeting pods.
* Up to 3 drop tanks.

gambar Eurofighter EF-200 Typhoon FGR4
gambar Eurofighter EF-2000 Typhoon S
gambar Eurofighter EF-2000 Typhoon T
gambar Eurofighter EF-2000 Typhoon F2
gambar Eurofighter EF-2000 Typhoon T1
gambar Eurofighter EF-2000 Typhoon T3

Sumber dan gambar :
* Wikipedia
* Military-today
* Kaskus Militer

Leave a comment »

Sab JAS 39 Gripen

JAS 39 Gripen

JAS-39 Gripen adalah pesawat tempur Multi-role berpenggerak jet tunggal buatan Saab Swedish Aerospace Company, sebagai produk asli kebanggan swedia JAS Gripen juga sudah dipakai oleh Angkatan Udara Republik Ceko, Hungaria, Afrika selatan dan Thailand, Gripen dipersiapkan untuk menggantikan pesawat tempur lama Saab 35 Draken dan Saab 37 Viggen sebagai pesawat tempur generasi keempat yang berteknologi modern.

Saab 35 Draken


Saab 37 Viggen

Pengembangan Gripen dimulai pada tahun 1982 setelah Parlemen menyetujui, penggunaan nama JAS berasal dari singkatan Jack Attack Spanning dan nama Gripen (Griffin) diambilkan dari sebuah kompetisi publik untuk memberi nama pesawat terbang Swedia yang baru.
Swedia memilih untuk mengembangkan Gripen daripada memilih varian seri dari F-16, F-18, F-5S dan F-20 Tigershark karena percaya akan kemampuan yang dimiliki sendiri.
Gripen pertama kali terbang pada 26 april 1987 saat Ulang tahun ke 50 Saab dan prototipe pertama terbang pada 9 desember 1988.
Pengembangan proyek Gripen dikerjakan bersama BAE System dan pada tahun 1995 dibetuk sebuah konsorsium perusahaan Saab-BAe Gripen AB yang bertugas sebagai manufaktur dan pemasaran dari Gripen secara internasional, kerjasama ini berlanjut lagi pada tahun 2001 sampai 2004 dan pada Januari 2005 Saab bertanggung jawab penuh untuk pemasaran Gripen.
Pada 26 april 2007 Norwegia menandatangani kesepakatan untuk berpartisipasi dalam pengembangan Gripen di masa depan dan nilai kontraknya adalah NOK 150 juta dan berdurasi selama dua tahun, selanjutnya pada juni 2007 Thales Norway A/S menandatangani kontrak kerjasama untuk pengembangan sistem komunikasi dari Gripen, dan pada desember 2007 perusahaan teknologi dari Denmark Terma A/S juga ikut berpartisipasi dalam pengembangan teknologi dengan nilai kontrak DKK 10 milliar selama 10-15 tahun yang juga memastikan Denmark untuk ikut memilih Gripen.Pada tanggal 23 april 2008 Pesawat demonstrator versi dual seat selesai dibuat, pesawat juga disebut Gripen Demo / Gripen E/F atau juga MS-21, Mesin jet menggunakan Volvo Aero RM-12 Turbofan produksi Volvo Glygmotor yang merupakan pengembangan dari Mesin jet General Electric F-404 J Turbofan, mesin yang juga dipakai oleh F/A-18 Superhornet, sebagian part komponen dibuat di General Electric USA kemudian di rakit di Volvo Aero Swedia, mempunyai kecepatan maksimum mach 1,1 dengan traksi 80.5/54 kN.

gambar mesin Volvo Aero RM-12 Turbofan

Penerbangan perdana Gripen Demo dilakukan pada tanggal 27 mei 2008 berlangsung sekitar 30 menit dengan ketinggian maksimum sekitar 6.400 meter (21.000 kaki) dan pada tanggal 21 januari 2009 Gripen Demo terbang hingga kecepatan Mach 1,2 tanpa henti untuk menguji kekuatan supercruisenya.
Gripen generasi terbaru atau Gripen NG mengalami perubahan dengan penambahan kapasitas tangki bahan sebesar 40% dan kapasitas payload sebesar 14.000 – 16.000 Kg serta penambahan dua pylon beban berat, Radar PS-05/A serta antenna AESA dan siap di uji pada pertengahan 2009.
Saab melakukan studi untuk membuat pesawat tempur versi kapal induk sejak 1990-an dan pada 2009 Saab meluncurkan proyek naval version karena adanya permintaan dari India dan brasil, tahun 2010 Pemerintah Swedia memberikan kontrak selama 4 tahun kepada Saab untuk meningkatkan Radar Gripen dan peralatan lainnya serta menurunkan biaya operasional dengan rencana akan memesan varian terbaru yaitu Gripen NG selain JAS 39 E/F yang akan diharapkan sudah memasuki Angkatan Udara Swedia di tahun 2017.Desain pesawat memakai sayap Delta dan Canards ( sebuah sayap kecil aerodinamic yang dipasang dikepala pesawat ) yang berfungsi untuk mendapatkan pengendalian optimal dan daya aerodinamis pada saat pesawat melakukan manuver atau take-off maupun mendarat, mendukung avionik peperangan elektronik yang lebih terprogram serta membuat pesawat mampu membawa persenjataan maksimum tanpa mengurangi daya aerodinamis

gambar canard berwarna biru pada Gripen
Desain Canards memang berfungsi untuk membantu pesawat untuk dapat terbang di landasan yang pendek sekitar 800 meter dalam pengujian dan juga dapat berfungsi sebagai rem besar yang mendorong gaya gerak pesawat kebawah (downforce) sehingga memungkinkan pesawat untuk menghentikan laju roda dalam jarak yang pendek, estimasi harga pesawat sekitar 300 milliar rupiah, cukup mahal tapi terbayar dengan kemampuannya yang lebih dan menurut sumber dari swedia itu hanya memakan 2/3 biaya dari biaya pembuatan Saab Viggen.
Radar Gripen menggunakan PS-05/A Pulse-doppler X Band radar yang dikembangkan oleh Ericsson dan GE Marconi yang didasarkan pada Radar Blue Vixen yang digunakan pada pesawat Sea Harrier yang berhasil menahan radar pesawat eurofighter, Radar ini mampu mendeteksi, menemukan, megidentifikasi dan secara otomatis melacak beberapa target di bidang atas dan bawah, di tanh dan laut maupun udara dalam segala kondisi cuaca, Radar juga dapat membimbing empat rudal udara ke udara semisal AIM-120 AMRAAM, MBDA MICA secara simultan ke empat target berbeda, pada 7 maret 2009 Saab menandatangani kerjasama dengan SELEX Galileo untuk pengembangan Radar AESA Raven yang didasarkan dari Radar Selex Galileo AESA Vixen dan PS-05/A, Radar ini dapat memindai 200 derajat, sedikit ke belakang kiri dan sedikit ke belakang kanan dan pada 9 september 2009 Gripen Internasional menawarkan source code dari AESA sebagai tawaran Gripen untuk India.
Kokpit memiliki tiga warna full display dan digital emergency instrument presentation yang unik
, lay out kokpit dengan antarmuka yang memudahkan kerja pilot, tongkat kendali dan throttle tangan kiri serta kokpit yang lebih besar 30% dari pesawat sekelas didominasi oleh tiga buah ( 15,7 x 21 cm) aktif matrik, kristal cair, multi fungsi display dengan sudut lebar 20 x 28 derajat Head-up display (HUD) dilengkapi dengan sensor cahaya untuk komputer dan contrast control.

Keunikan Gripen adalah pesawat dapat mendarat di landasan jalan raya untuk mengisi bahan bakar dari tangki bahan bakar secara darurat dan terbang lagi dalam sesaat, berikut ini gambar pengetesan terbang Gripen di jalan raya dengan ukuran 17 x 800 meter :

Pemerintah Swedia telah memesan 204 unit pesawat kepada Saab termasuk didalamnya 28 unit varian dual seat, Czech Air Force dan Hungarian Air Force telah menyewa 14 pesawat dengan dua diantaranya varian dual seat menjadikan keduanya sebagai operator pertama pemakai JAS 39 Gripen diluar Swedia dan lulus dalam uji NATO untuk melaku kan pengisian bahan bakar di udara dengan menggunakan pesawat tanker, pengiriman ke Afrika selatan dimulai pada bulan april 2008 sebanyak 26 pesawat termasuk sembilan versi dual seat didalamnya kemudian pada tanggal 2 juni 2010 dikirim 15 unit lagi termasuk 9 unit versi dual seat, Thailand air force juga membeli 6 pesawat dengan 4 unit versi dual seat, banyak negara lain melakukan tender pembelian Gripen seperti kroasia, belanda, swiss, denmark, brasil, india, filandia, rumania tapi masih belum memberikan keputusan tenta ng pemebelian pesawat bahkan Norwegia yang ikut berkecimpung dalam pengembangan Gripen malah memutuskan untuk membatalkan kontrak dan menerima penawaran Lockheed Martin F-35 dari Amerika.

Berikut Varian yang sudah dihasilkan dari Saab Jas 39 Gripen :

* JAS 39 A : Versi pertama yang dihasilkan di tahun 1996 dan 31 unit diantaranya akan di

Up-grade ke dalam versi standart C/D.
* JAS 39 B : Varian dua kursi.
* JAS 39 C : Varian single seat yang sudah bersertifikat NATO dan mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara.
* JAS 39 D : Varian dual seat dari versi C.
* Gripen Demo : Varian demonstrator dual seat sebelum proses Gripen NG.

* Gripen NG : Varian terbaru dengan penggantian mesin baru GE F414G, perbaikan Avionik, penambahan kapasitas tangki bahan bakar dan Pylons.

* Sea Gripen : Varian kapal induk /angkatan laut dari Gripen N G.

Gripen cutaway :


gambar JAS-39A Gripen
gambar JAS-39B Gripen

gambar JAS-39C Gripen
gambar JAS-39D Gripen
gambar JAS-39 Gripen NG
gambar refuelling probe extended

sumber berita :
http://www.military-today.com/aircraft/jas_39_gripen.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/JAS_39_Gripen
– kaskus militer

Leave a comment »

Pakistan JF-17 Thunder


Chengdu JF-17 Thunder

Pakistan JF-17 Thunder adalah pesawat tempur generasi keempat hasil kolaborasi antara Chengdu Aircraft Industries Corporation dari China dengan Pakistan Aeronautical Complex dari Pakistan Air Force, JF-17 (Joint Fighter -17) atau oleh China juga disebut FC-1 (Fighter China 1)
FC-1 sebenarnya adalah proyek lama yang dibuat oleh Chengdu (China) dengan Northrop Grumman (Amerika) untuk meng-upgrade pesawat tempur China J-7 namun dibatalkan pada tahun 1990 namun dilanjutkan lagi dengan kode proyek Super 7 Project dan memberi nama pesawat itu dengan nama FC-1.
Pakistan dan China menandatangani Letter of Intent untuk pengembangan bersama JF-17 pada tahun 1998 dan diikuti penandatanganan kontrak di tahun 1999, JF-17 Dikembangkan untuk memenuhi permintaan Angkatan Udara Pakistan untuk sebuah pesawat tempur multi-role dengan teknologi menengah dan berbiaya rendah di produksinya sebagai pengganti pesawat tempur mereka Nanchang A-5, Chengdu F-7P/PG, Dassault Mirage III/IV yang akan memasuki masa pakainya, Diharapkan biaya yang dikeluarkan adalah sekitar US$15 million untuk per-Unitnya dan Pakistan Air Force (PAF) telah mengkorfirmasi akan memesan 150 unit pesawat dengan total 250 unit dalam rencananya. Prototipe pesawat menjalani terbang perdana di tahun 2003 dengan estimasi akan dilakukan pengiriman mulai tahun 2007.
Biaya proyek sebesar US$500 million ditanggung bersama oleh kedua pihak dan Azerbaijan juga ingin ikut serta dan memesan 26 unit pesawat.
Mesin turbojet pesawat akan menggunakan mesin Klimov RD-93 Turbofan Afterburner yang merupakan turunan dari mesin jet pesawat MIG-29 RD-33, Pada tahun 2007 ditandatangani kontrak untuk pembelian 150 unit mesin RD-93 ke pakistan, akan tetapi untuk versin PLA Air Force akan menggunakan mesin buatan sendiri yaitu WS-13 (Tianshan -21)

gambar mesin Klimov RD-93 Turbofan
gambar mesin WS-13 (Tianshan -21)

Pengembangan JF-17 tidak memerlukan waktu yang lama seperti HAL Tejas punya india karena basis pengembangan hanya lanjutan dari proyek F-7 Sabre II Project yang dihentikan tahun 1991 karena Embargo amerika sebagai Sanksi atas kasus Tiananmen.
Pada tahun 1991 Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) meredesain ulang F-7 dan mengganti namanya dengan FC-1/Super7 dan merombak ulang sayap Delta dengan desain sayap baru, cantelan dan air intake karena Pakistan Air Force hanya bersedia ikut dalam program jika desain pesawat benar-benar baru dan pihak China menyetujuinya.
pada tahun 1995 Nota kesepahaman (MOU) telah ditandatangani oleh kedua pihak dan sebuah perusahaan dari Rusia Mikoyan MAPO ikut bergabung dalam hal desain dalam CAC.
Pada tahun itu pihak PAF juga mengumumkan tender pengadaan sistem Avionik yang diharapkan sudah ikut terlibat dalam proses produksi di tahun 1999, pesertanya ada Thomson-CSF, SAGEM, GEC-Marconi dan FIAR( berganti nama SELEX Galileo) dan pemenangnya adalah Radar Grifo S-7 dari FIAR karena PAF sudah memakainya dalam mengupgrade pesawat F-7 dan Mirage III mereka sebelumnya akan tetapi spesifikasi yang ada di varian FC-1 China berbeda karena Avionik yg digunakan juga turunan dari Chengdu J-10.

Prototipe pertama PT-01 telah diluncurkan pada 31 mei 2003 di Chengdu Flight Test Centre dan rencananya akan terbang perdana ( Maiden Flight ) pada juni 2003 di Bandara Wenjiang akan tetapi molor dikarenakan wabah SARS yang sedang melanda China dan akhirnya berhasil melakukan terbang perdana pada 25 agustus namun akhirnya penerbangan resminya yang juga dihadiri oleh pihak Pakistan Air Force berlangsung 2-3 september 2003, Pada akhir maret 2004 dilaporkan bahwa CAC telah melakukan 20 Uji penerbangan PT-01 dan pada tanggal 7 april 2004 Pilot penguji dari PAF sqn Ldr Rashid Habib dan sqn Ldr Mohammad Ehsan Ul-Haq menerbangkan PT-01 untuk pertama kalinya. Penerbangan perdana Prototipe ketiga PT-03 dilakukan pada 9 april 2004.
Pada september 2005 dilakukan evaluasi setelah Uji penerbangan di tahun 2003 dan Chengdu Aircraft Design Institute melakukan perubahan di tahun 2004, dikarenakan masalah di Air intake dimana mesin jet Klimov RD-93 terlalu banyak mengeluarkan asap dan masalah Kontrol pesawat yang banyak dikeluhkan oleh para Pilot sehingga dilakukan perancangan ulang pada Air Intake, sirip dan ekor pesawat serta dilakukan pengujian dengan membawa beban 12.400 kg pada saat Take off, masalah ini berimbas pada pengiriman pertama pesawat ke PAF molor lagi.
Pengujian prototipe asli PT 01-03 tetap dilakukan namun Pakistan mengevaluasi lagi tender pengadaan sistem Avionik pada Inggris, Perancis dan Italia yang diharapkan sudah selesai dan produksi pertama pesawat sudah dapat dilakukan pada tahun 2006.
Prototipe keempat PT-04 telah diluncurkan bulan april 2006 pada sebuah acara upacara CAC di Bandara Wenjiang yang diliput oleh Kantor berita Xinhua, dimana desain pesawat sudah mengalami banyak perubahan desain Air intakenya mirip dengan model Air intake Lockheed Martin F-35 Lightning II, untuk Avionik dan sistem persenjataan juga sudah mengalami perubahan dan pengujian dengan teknologi avionik generasi ke empat yang menggabungkan Fusi sensor, suite peperangan elektronik, tata ruang kokpit, Digital Electronic Engine Control (DEEC) unutk Klimov RD-93, Kontrol FBW penerbangan, kemampuan peperangan Malam dan Multi-mode pulse doppler radar. kemudian prototipe keenam PT-06 terbang september 2006.
Rusia dan China pada awalnya menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri penjualan mesin jet Klimov RD-93 untuk JF-17 Pakistan dikarenakan protest dari India tetapi pada akhirnya Persiden Rusia Vladimir puttin tetap memberi izin untuk penjualan mesin jet turbofan Klimov RD-93 ke Pakistan dan 6 negara lain.
Pengiriman pertama pesawat dari rencana dua kali fase produksi telah tiba 2 Maret 2007 di Pakistan dalam bentuk Rakitan dan pada 10 maret 2007 semua pesawat sudah terbang dan langsung menjalani uji demontrasi karena akan di pamerkan dalam Parade Hari Kemerdekaan Pakistan pada 23 Maret 2007 dan dalam pidato Kepala Pakistan Air Force Marsekal Tanveer Mehmood bahwa 200 unit JF-17 Thunder akan lengkap sampai tahun 2015.
Pada tahun 2007 varian model training dan dual seat akan dikembangkan sendiri oleh Pakistan Aeronautical Complex (PAC) yang dirancang untuk melakukan misi khusus.
Pada bulan november 2007 CAC dan PAC melakukan evaluasi penerbangan untuk menguji radar KLJ-10 rancangan Nanjing Research Institute for Electronic Technology (NRIET) dan LETRI SD-10 Radar aktif Homing rudal udara ke udara dan Mereka juga mempertimbangkan untuk menggunakan Radar Thales RC-400 dan MBDA-MICA Rudal udara ke udara dari Perancis sehingga nantinya Armada FJ-17 bisa menggunakan kombinasi dari Radar dan Rudal dari Perancis maupun China.
Pakistan Aeronautical Complex (PAC) akan mulai memproduksi Sub-rakitan JF-17 pada 22 januari 2008 dimana Infrastruktur proses produksi sudah mulai dibangun sejak tahun 2005 dan PAC akan menerima lanjutan produksi sub-rakitan 6 pesawat untuk merakit total 8 pesawat dari 16 yang direncanakan dan di akhir tahun 2008 Initial Operating Capability (IOC) /kemampuan operasional awal harus sudah tercapai.
Pakistan Air Force tidak sepenuhnya puas akan kemampuan mesin jet Klimov RD-93 hingga mereka hanya menargetkan untuk 50 pesawat pertama saja dan di tahun 2008 diadakan Pameran IDEAS ( International Defence Exibition And Seminar ) dan pihak PAF mengatakan mereka punya alternatif mesin baru yaitu Snecma M53-P2 yang bisa saja dipakai pada pameran tersebut, perakitan final dimulai di pakistan pada 30 juni 2009 dan diharapkan 4-6 pesawat sudah rampung pada akhir tahun, 12 pesawat di tahun 2010, 15 pesawat di tahun 2011 dan selanjutnya bisa 25 pesawat pertahunnya.
Ditahun awal tahun 2010 PAF menandatangani kontrak untuk pengadaan sistem Avionik dan senjata pada ATE Aerospace group asal Perancis yang didalamnya terdapat perusahaan Thales, Sagem dan MBDA dengan nilai kontrak 1,3 milliar dollar untuk melakukan Upgrade 50 pesawat JF-17 dengan 50 lebih opsi yang akan dimulai pada proses produksi tahun 2013 serta kontrak pembelian rudal Denel-A Darter dari Afrika selatan.
Namun pada april 2010 kesepakatan itu ditangguhkan untuk sementara dan beberapa sumber tak resmi menyatakan penangguhan tersebut karena menyangkut kondisi keuangan Pakistan, berita lain juga mengatakan adanya protes dari pihak India pada perancis karena mereka juga melakukan kontrak serupa serta adanya opsi tambahan untuk membeli 9 pesawat Mirage dari Uni Emirat Arab sebagai bagian dari kontrak Upgrade JF-17 Namun pihak PAF menyangkal semua berita tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah “gangguan” untuk membatalkan proyek tersebut, dan dilaporkan pada tahun 2010 terjadi sebuah masalah dimana pihak Rusia mengancam membatalkan kontrak pembelian Klimov RD-93 karena sikap china yang akan ikut berkompetisi dalam Tender pesawat negara Mesir sehingga penawaran MIG-29 bersaing dengan FC-1/JF-17 dari China namun pada tanggal 19 juli 2010 dilaporkan terjadi penandatanganan kontrak pembelian 100 RD-93 antara pemerintah China dan Rusia dari total 500 unit yang direncanakan dan tidak ada intruksi untuk menghentikannya.
JF-17 ditampilkan untuk pertamakalinya secara internasional di Farnborough International Airshow 2010 sebanyak dua pesawat dari Skuadron Black Spider PAF bersama dengan paket senjata dari China diaman rinciannya adalah Rudal anti-kapal C-802 A, LS-6 Guided glide bomb, KG-300G Airborn self-protection jamming pod, WMD-7 day/night targeting pod, Rudal udara ke udara SD-10A/ PL-5. PAF juga menargetkan dari total pesanan 250 unit 150 unit akan dibuat versi stealth pada tahun 2015 sampai tahun 2025.

Pakistan akan membuat Radar baru untuk pesawat JF-17 Thunder
menyadur berita dari Janes defence :

The chief of staff of the Pakistan Air Force (PAF) has told Jane’s that Pakistan has built its first facility to manufacture radars for fighter aircraft.

Air Chief Marshal Rao Qamar Suleman said the indigenously produced radar, built with China’s assistance at the Pakistan Aeronautical Complex (PAC), in Kamra, north of Islamabad, would equip the JF-17 ‘Thunder’ fighter aircraft jointly produced by the two countries.

“This is a major step forward. This will be the first such [radar manufacturing] facility in Pakistan,” ACM Suleman said in an interview on 21 December at PAF headquarters in Islamabad. He confirmed that the radar would be fitted on the JF-17, which, along with US-supplied F-16 Fighting Falcons, is set to be the PAF’s front-line combat aircraft.

Previous reports suggest that the radar to be manufactured will be the Chinese-built CETC/NRIET KLJ-7 radar set. At the 2010 Farnborough Air Show, at which two JF-17s made their debut in the West, Jane’s reported that the KLJ-7 had received full marks from the JF-17’s designers at PAC.

A PAC programme officer told Jane’s : “I have flown with this radar and with other models that we have looked at fitting to this aircraft, such as the Thales RC400, and the Chinese radar is every bit as capable as its contemporary analogs.”

gambar Radar KLJ-7

Leave a comment »

HAL Tejas LSP-5

Seri kelima produksi terbatas Tejas (LSP-5) terbang untuk pertama kalinya 19 november 2010, dikemudikan oleh Lt Cdr Ankur Jain dari Angkatan Laut India. Pesawat ini sepenuhnya perwakilan dari konfigurasi yang akan mencapai clearance operasional awal bulan depan. Platform ini bergabung dengan empat jet LSP seri sebelumnya dan dua prototipe Jenis kendaraan saat ini dalam program jam terbang (PV-1 tidak terbang sejak Januari tahun ini, dan dua teknologi demonstran tidak diterbangkan untuk beberapa waktu).

Penerbangan sukses datang pada hari yang dinyatakan buruk bagi Angkatan Udara India, yang kehilangan 10 personil (tiga kru + tujuh personilterdaftar) dalam kecelakaan helikopter Mi-17 di Bomdir, Arunachal Pradesh hari sebelumnya. Salah satu perwira Angkatan Darat juga kehilangan nyawa.

HAL Tejas

HAL Tejas

Tejas adalah LCA ( Light Combat Aircraft )/ pesawat tempur ringan generasi keempat buatan HAL ( Hindustan Aeronautics Limited ) sebagai pesawat tempur buatan India pertama.
Konsep pertama dibuat tahun 1975 akan tetapi proyek gagal karena ketiadaan untuk mendapatkan Mesin yang diinginkan IAF ( Indian Air Force ) dari pihak asing.
Proyek LCA kemudian dilanjutkan lagi di tahun 1983 dan ditahun 1984 dibentuklah ADA ( Aeronautical Development Agency ) dari HAL untuk mengelola program LCA Tejas sebagai kebutuhan mendesak untuk menggantikan pesawat tempur MIG-21 IAF yang sudah digunakan sejak tahun 1970 dan akan habis masa pakai ditahun 1995.
ADA adalah sebuah konsorsium nasional yang membawahi sekitar seratus lebih Laboratorium pertahanan, organisasi industri dan institusi akademik untuk mengembangkan sistem tempur Fly-by-wire, Flight Control System dan Multi mode pulse doppler, akan tetapi pada awalnya mereka sangat membatasi peran Asing dalam proyek tersebut.
Pesawat menggunakan desain sayap Delta dan memakai Mesin jet Afterburner tunggal dan untuk pilihan awal HAL menggunakan mesin jet buatan Amerika General Electric F404-GE-IN20 sebagai powerplant sementara hingga Mesin jet turbofan buatan mereka sendiri

yaitu KAVERI GTRE GTX-35VS sudah siap.

General Electric F404-GE-IN20

Kaveri GTRE-GTX-35VS

Proyek ambisius LCA Tejas banyak menggunakan komponen Lokal dalam pengerjaannya, ada sekitar 35 komponen Avionik utama dibuat sendiri dan hanya melibatkan tiga kontraktor Asing
dalam pengerjaan Multi Function Displays (MFDs) dari Sextant (Perancis) dan Elbit (Israel), Helmet Mounted Display and Sight (HMDS) cueing system oleh Elbit, Laser pod supplied oleh Rafael (Israel) dan Kursi lontar Martin baker Ejection seat untuk komponen Import.
Namun pada Mei 1998 India melakukan Test Senjata Nuklir mereka yang mengakibatkan negara itu menerima sanksi Embargo dan komponen-komponen yang sedianya akan diimport terpaksa dibuat sendiri, pada awalnya mereka mengembangkan teknologi CFC (Composite Fibre Carbon) dan Glass Cockpit modern bahkan ADA malah memperoleh keuntungan dari Lisensi atas teknologi Autolay Intregated Automated Software System for the design and development of 3D Laminated Composite elements yang dibeli oleh Airbus dan Infosys.
Melalui berbagai riset teknologi terus menerus akhirnya ADA dapat memproduksi 70% komponen utama pesawat, termasuk MMR (Multi Mode Radar) buatan sendiri hingga bisa meminimalkan pembelian komponen import sekecil mungkin.
Konsep dikerjakan mulai Oktober 1987 sampai September 1988 dan ADA menunjuk Dassault Aviation Peracis sebagai konsultan untuk mengawasi pembuatan prototype pesawat.
Desain LCA telah diselesaikan tahun 1990 dengan desain sayap Delta kecil dan bermesin jet ringan yang mampu melakukan manuver yang stabil namun dengan Aviasi dan komposit berteknologi tinggi buatan sendiri membuat sikap kehati-hatian sangat penting dalam pengembangan rekayasa berskala penuh dan akan membagi program menjadi dua tahap.
Tahap pertama :
– Mewujudkan konsep menjadi pesawat demontrasi ( TD1 dan TD2 ) dan pembuatan spesimen
uji struktural badan pesawat dan setelah pesawat demonstrator berhasil akan diproduksi dua
buah Prototipe ( PV-1 dan PV-2 ) dan penciptaan infrastruktur dasar yang di perlukan dan
fasilitas pengujian akan dimulai.
Tahap kedua :
– Pembuatan prototipe selanjutnya ( PV-3 sebagai varian produksi, PV-4 sebagai varian Ang-
katan laut dan PV-5 sebagai varian pesawat latih ) serta pengujian di berbagai fasiltas pusat
produksi.

Tahap pertama dimulai tahun 1990 dan pembuatan pesawat demonstrator dimulai pertengahan
1991 namun akibat krisis keuangan pembangunan tertunda hingga april 1993 dan dimulai lagi
bulan juni, dan pada 17 November 1995 pesawat demonstrator TD-1 diluncurkan dan TD-2 di
tahun 1998 dengan berbagai masalah yang di temui karena alasan struktural dan pengembangan
sistem kontrol penerbangan.
Pengembangan sistem kontrol penerbangan membutuhkan pengetahuan luas mengenai hukum yang mengatur penerbangan, kode software untuk kontrol komputer serta integrasi dengan sistem Avionik dan sistem Elektronik dan berujung pada masalah dimana tidak ada negara yang
mau menjual program tersebut dan pada tahun 1992 india mendirikan LCA National Control Law (CLAW) sebagai payung hukum untuk Versi buatan India sendiri dan para ilmuwan di National Aeronautics Laboratory berhasil mengembangkan softwarenya namun terkendala dalam pengujian karena India tidak memiliki Alat Simulator yang canggih sehingga mau tidak mau mereka meminta bantuan BAe (British Aerospace) dan Lockheed Martin untuk membantu pengembangan perangkat lunak FCS mereka dan terbukti bahwa pekerjaan yang jauh lebih besar akan mereka hadapi melebihi perkiraan dan antisipasi mereka.
Pengujian pertama dilakukan di fasilitas simulator BAe meliputi test ‘minibird’ dan ‘ironbird’ dan test yang kedua di fasilitas simulator F16 VISTA (Variable In-Flight Stability Test Aircraft) milik Lockheed Martin pada juli 1996 meliputi 33 Test Flight akan tetapi di tahun 1998 dihentikan karena Embargo yang dijatukan U.S. karena test nuklir india.
Akhirnya Software FCS telah melalui 50 jam terbang dengan pesawat demonstrator TD-1 dan dinyatakan sempurna dan melakukan terbang perdana (Maiden Flight) di National Flight Test Center (NFTC) dekat Bangalore pada 4 januari 2001 dan penerbangan supersonik pertama telah berhasil dilakukan pada 1 agustus 2003 serta pesawat demonstrator TD-2 juga berhasil melakukan penerbangan perdana pada tanggal 6 juni 2002 dan komentar dari para pilot penguji mengatakan bahwa LCA sangat menakjubkan bahkan lebih baik dari pesawat Mirage 2000.
Pengembangan penting lain adalah masalah MMR (Multi Mode Radar) yang semula akan menggunakan Ericsson Microwave System PS-05/AI/J-band Multi Function Radar yang dikembangkan oleh Ericsson dan Ferranti Defence System Integration for Saab JAS-39 Gripen dari Swedia tapi urung dilakukan setelah berbagai pertimbangan dan akhirnya DRDO (Defence Research and Development Organisation) memutuskan untuk mengembangkan MMR di HAL divisi Hyderabad dan LRDE (Electronics and Radar Development Establishment) laboratorium unit di Bangalore sejak tahun 1997 dan DRDO’s Centre For Airborne Studies (CABS) bertanggungjawab untuk melakukan program test untuk MMR. Mulai tahun 1996-1997 CABS berhasi mengembangkan HAL/HS-748M Airborne Survelliance Post (ASP) Testbed menjadi testbed untuk sistem Avionik dan Radar LCA dengan memodifikasi hidung pesawat.
Pada pertengahan 2002 pengembangan MMR mengalami penundaan karena eskalasi biaya, pada awal 2005 MMR sudah menjalani uji dasar air to air look up dan look down mode dan bulan Mei 2006 terungkap bahwa kinerja beberapa mode tidak sesuai seperti harapan hingga dihentikan sementara waktu dan dilanjutkan dengan test Weapon, akar masalahnya adalah pada kompabilitas antara radar dengan SPM (Signal Processor Module) yang berujung pada pemilihan penggunaan radar asing dan prototipe ke tiga LSP-3 terbang pada 23 april 2010 dengan menggunakan radar gabungan dengan radar israel Eltas’s EL/M2032 pulse doppler.
MMR HAL Tejas dan Elta’s EL/M2032

Masalah Engine
Pada awalnya diputuskan pesawat prototipe menggunakan mesin turbofan General Electric F404-GE-F2J3 Afterburning dan Mesin turbofan buatan sendiri ‘Kaveri’ akan digunakan untuk pesawat produksi nantinya akan tetapi berbagai kedala menyatakan bahwa kaveri belum siap.
Pada pertengahan 2004 Kaveri gagal test ketinggian di Rusia sehingga mengandaskan harapan
untuk menggunakannya pada pesawat produksi pertama, akhirnya IAF memutuskan untuk pengadaan mesin turbofan F404-GE-IN20 untuk delapan pesawat LSP dan dua varian Naval.
ADA menganggarkan 105 juta dollar US kepada General Electric untuk biaya produksi dan pengembangan mesin F404-GE-IN20 dan pengiriman sudah dimulai pada tahun 2006.
Pada bulan februari 2006 sebuah perusahaan perancis RFP menawarkan pengembangan mesin kaveri pada perusahaan pesawat terbang perancis SNECMA untuk mengatasi masalah pada Kaveri dengan mengambil basis engine M88-2 SNECMA sebagai inti mesin dari mesin kaveri baru yang sebagaimana mesin tersebut juga digunakan pada pesawat tempur Rafale dan DRDO memasukkannya sebagai pilihan ketiga dan tidak akan ikut berpartisipasi didalamnya.
Pada tahun 2007 HAL order kembali 24 mesin F404-GE-IN20 untuk dipasang pada skuadron operasional pertama LCA Tejas Indian Air Force dimana sebelumnya sudah menjalani pengujian jam terbang selama 330 jam untuk misi akselerasi dan 1000 jam operasi penerbangan.
Pada tahun 2008 Kaveri dinyatakan belum siap karena target untuk mendapatkan kisaran kecepatan 95 – 100 kilonewton (21.000 – 23.000 lbf) yang memungkinkan pesawat untuk melakukan manuver tempur dengan beban senjata yang optimal belum tercapai, dan peserta tender yang lain ada mesin EUROJET EJ200 dan General Electric GE F414 yang menawarkan teknologi turbin kristal pisau tunggal ditolak oleh ilmuwan India pada awalnya. Sumber di IAF mengatakan mungkin butuh tiga sampai empat tahun untuk merancang ulang badan pesawat agar dapat mengakomodasi berat mesin baru karena sebelumnya sudah memakai mesin F404-GE-IN20 untuk pesawat produksi pertama.
Dilaporkan juga bahwa Eurojet telah menawarkan dua varian mesin EJ-200 untuk LCA Tejas varian angkatan laut dan penawaran untuk membantu pengembangan mesin Kaveri, akhirnya setelah melalui berbagai proses penawaran diperoleh hasil bahwa General Electric dengan mesin GE F414 adalah penawar terendah dan memenangkan tender pembelian mesin pesawat dan pada 20 september 2010 DRDO mengumumkan akan membeli 99 mesin GE F414 dimana produksi awal dilakukan di Amerika dan sisanya akan diproduksi di india dengan metode T.O.T (Transfer Of Technology) sebagai langkah yang tepat untuk kemandirian alutista.
Pada bulan maret 2005 IAF menganggarkan 2.000 crore rupee (US$454 million) untuk pembuatan 20 pesawat dan 20 pesawat lagi untuk order selanjutnya dimana 40 pesawat semua memakai mesin F404-GE-IN20, kemudian IAF membentuk IOC (Initial Operating Clearance) yang terdiri atas 14 anggota yang berasal dari para pilot dan perwira serta dikepalai oleh seorang Marsekal muda, bertugas di Bangalore dimana tugas mereka untuk mengawasi, menguji dan mengembangkan teknologi LCA agar selesai sesuai rencana.
Prototipe pesawat LSP-1, LSP-2, LSP-3 telah selesai diuji dan LSP-4 difokuskan untuk operasional di angkatan laut dan akhirnya di bulan november 2009 varian trainer telah melakukan terbang perdana.
Pemerintah India mengeluarkan dan 8.000 crore rupee (US$1,82 billion) untuk memulai produksi tempur LCA Tejas untuk IAF dan NAVY dengan rencana pembuatan 50 pesawat dan sebelumnya Prototipe pertama telah berhasil diluncurkan pada juli 2010.

HAL Tejas mempunyai delapan cantelan di badan pesawat dan mampu membawa beban maksimal 4000 kg muatan persenjataan dan bahan bakar, Armament yang biasa dipasang kebanyakan dari Rusia meliputi rudal Astra, R-77(AA-12 Adder), R-73(AA-11 Archer), misil KH-59 Laser guide, KH-35, KH-31 misil Anti-kapal, berbagai macam bom dan senapan Twin barrel 23-mm Cannon.

Day 1 Air Display


LCA NAVY / Tejas MK2 Model

10 Januari akan menjadi tonggak bersejarah dari proyek ADA yaitu Initial operational clearance (IOC) dari HAL Tejas berikut adalah update berita dan gambar mengutip dari team Livefist.blogspot.com.

Press conference dari IAF Chief PV Naik

Leave a comment »

Lockheed Martin F-35 Lightning II

Lockheed Martin F-35 Lightning II

Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah pesawat tempur multirole generasi kelima bermesin jet tunggal dan berteknologi Stealth buatan Lockheed Martin Amerika Serikat, sebagai pesawat tempur tercanggih pada saat ini F-35 memiliki tiga varian yang pertama adalah varian konvesional yang kedua adalah varian Short Take Off and Vertical Landing (STOVL) dan ketiga adalah varian Kapal Induk.

F-35 adalah turunan dari pesawat X-35, produk dari Program Joint Strike Fighter (JSF) antara pemerintah Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris beserta Mitra strategis lain. Desain dan produksi pesawat oleh industri kedirgantaraan dipimpin oleh Lockheed Martin U.S.A dan penerbangan pertamanya pada 15 desember 2006.

Amerika berencana untuk membeli pesawat sebanyak 2.443 unit senilai U.S $ 232 billion sehingga menjadi program pertahanan yang paling mahal yang pernah ada, data anggaran United StateS Air Force (USAF) pada tahun 2010 dan menurut sumber lain menyatakan bahwa proyek F-35 memiliki prakiraan biaya antara U.S$ 89 million sampai U.S$ 200 million atas rencana produksi F-35 tergantung varian dan Lockheed Martin berupaya untuk mengurangi cost pemerintah hingga sebesar 20% dari perkiraan.

JSF Program

Program JSF dirancang untuk menggantikan pesawat militer Amerika Serikat seperti F-16, A-10 dan F/A-18 (termasuk varian baru E/F) serta pesawat tempur taktis AV-8B, untuk menjaga pengembangan, proses produksi dan penurunan biaya, desain umum direncanakan dalam tiga varian dimana 80% bagian mempunyai komponen yang sama.

  • F-35A : Varian Convesional Take Off and Landing (CTOL)
  • F-35B : Varian Short Take Off and Vertical Landing (STOVL)
  • F-35C : Varian carrier base CATOBAR (CV)

Lockheed Martin klaim bahwa F-35 dimaksudkan untuk menutup kemampuan udara ke udara jarak jauh kedua setelah F-22 Raptor, F-35 diharuskan menjadi empat kali lebih efektif dalam peperangan udara ke udara, delapan kali lebih efektif dalam peperangan udara ke darat dan tiga kali lebih efektif dalam pengintaian dan dominasi pertempuran dari pesawat tempur terdahulu dimana mempunyai jangkauan yang lebih panjang dengan dukungan logistik yang lebih sedikit.

Sementara kontrak pengembangan JSF telah ditandatangani pada 16 november 1996, kontrak untuk sistem pengembangan dan demonstrasi telah diberikan pada 26 oktober 2001 untuk Lockheed Martin X-35 bukan pada Boeing X-32 karena desain X-35 dianggap memiliki sedikit resiko dan memiliki potensi petumbuhan yang lebih. penunjukkan pesawat F-35 mengejutkan Lockheed Martin karena mereka telah mengembangkan pesawat itu terlebih dahulu dengan sebutan F-24.

gambar prototipe X-35

Fase Desain
Berdasarkan pengujian terowongan angin desain X-35 diperbesar hingga menjadi desain F-35, fuselage depan ditambah sebanyak 130 mm untuk ruang Avionik, Stabilisator horisontal dipindahkan 51 mm kebelakang untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol, permukaan atas fuselage diangkat 25 mm di sepanjang garis tengah dan ukuran terminal senjata pada varian STOVL ditingkatkan hingga menjadi sama dengan varian lainnya.

Varian F-35B STOVL terancam bahaya kehilangan persyaratan kinerja pesawat pada tahun 2004 karena terlalu berat 1.000 kg atau 8% dalam laporan, sebagai tanggapan Lockheed Martin menambahkan daya dorong mesin dan menipiskan airframe pesawat, mengurangi ukuran terminal senjata dan stabilisator vertikal, diarahkannya kembali dorongan dari roll post outlets ke nozzle utama, redesain kembali sambungan sayap,membagi sistem elektrikal dan bagian penting pesawat dibelakang kokpit. banyak dari perubahan itu diterapkan pada tiga varian untuk mempertahankan kesamaan kualitas, pada september 2004 upaya penurunan berat badan berhasil dengan menurunkan berat sampai 1.200 kg.

Pada juli 2006 USAF resmi mengumumkan nama F-35 Lightning II sebagai penghargaan atas nama pesawat tempur twin-prop USAF era perang dunia kedua Lockheed P-38 Lightning dan pesawat jet supersonic RAF era perang dingin English electric Lightning. F-35 Lightning II akan melanjutkan warisan dari dua pesawat tempur terbesar dan pesawat tempur terbaik sepanjang masa kata Ralph D Heath presiden dari Lockheed Martin Aeronautic Co.

Pada tanggal 19 desember 2008 Lockheed Martin meluncurkan pesawat F-35A pertama (AF-1) dengan berat yang sudah dioptimalkan, ini akan menjadi produksi pertama F-35 secara cepat dalam skala penuh dan secara struktural akan menjadi F-35A dimana pengirimannya akan dimulai pada tahun 2010.

Pada tanggal 5 januari 2009 enam pesawat F-35 telah jadi termasuk AF-1 dan AG-1 sedangkan 17 unit masih dalam proses produksi, 13 dari 17 unit pesawat adalah pesawat uji dan semua akan selesai pada tahun 2009 kata John R Kent Manajer komunikasi F-35 Lightning II Lockheed Martin Aeronautics, Empat lainnya adalah model pertama pesawat produksi dimana salah satunya akan dikirimkan ke Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) pada tahun 2010 langsung ke pangkalan udara Eglin dan pada tanggal 6 april 2009 Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengusulkan untuk mempercepat produksi untuk pembelian 2.443 pesawat F-35.

Pada tanggal 21 april menurut laporan Media mengatakan bahwa sekitar tahun 2007 sampai 2008 Mata-mata komputer telah berhasil menyalin dan mengunduh beberapa terabyte data yang terkait desain F-35 dan sistem elektronik yang berpotensi untuk pengembangan lawan terhadap sistem pertahanan pesawat namun pihak Lockheed Martin membantah adanya penyalahgunaan proyek dan mengatakan bahwa tidak ada informasi rahasia yang tercuri.

Pada 9 november Aston Carter wakil menteri pertahana Amerika Serikat bidang akuisisi teknologi dan logistik mengakui bahwa Pentagon dengan Joint Estimate Team (JET) menemukan biaya yang masuk akal di masa depan dan mengambil alih jadwal proyek dan beliau berniat untuk mengadakan pertemuan untuk mencoba menghindari hal tersebut. pada tanggal 1 februari 2010 Robert Gate mengganti manajer program JSF U.S Marine Mayor Jenderal David Heinz dan memotong pembayaran sebesar U.S$ 614 million kepada Lockheed Martin dikarenakan hitungan biaya program karena keterlambatan.

Pada tanggal 11 maret 2010 sebuah laporan dari Government Accountability Office ke Komite Senat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat proyeksi biaya untuk F-35A sekitar U.S$ 112 million untuk kurs saat itu, pada 2010 pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa program F-35 telah melampaui estimasi biaya awal lebih dari 50% dan pada tanggal 24 maret overruns biaya terbaru dan keterlambatan dianggap tidak bisa diterima dalam kesaksian Gates sebelum Konggres AS namun Gates menegaskan bahwa Proyek F-35 akan menjadi tulang punggung tempur Angkatan Udara Amerika Serikat untuk generasi berikutnya dan memberitahu konggres bahwa ia telah memperluas masa pengembangan F-35 menjadi 13 bulan dan dianggarkan U.S$ 3 billion lebih untuk program pengujian ketika produksi sedang melambat. pada bulan agustus 2010 Lockheed Martin mengumumkan penundaan dalam menyelesaikan sebuah problem produksi ” wing at mate overlap ” yang akan memperlambat produksi awal.

Pada bulan november 2010 sebagai bagian dari pemotongan biaya wakil dari komisi nasional tanggung jawab fiskal dan reformasi menyarankan pembatalan pengadaan F-35B dan membagi pesanan untuk F-35A dan F-35C dan pada saat yang sama Air Force Magazine melaporkan bahwa pejabat Pentagon sedang mempertimbangkan membatalkan F-35B karena alasan jangkauan yang dekat atas dasar basis kapal yang beroperasi akan masuk kedalam jangkauan misil balistik taktis yang bermusuhan namun Konsultan Lockheed Martin Loren B Thompson mengatakan bahwa rumor ini hanyalah akibat dari ketegangan biasa antara U.S Navy dan Marines dan tak ada alternative lain sebagai pengganti pesawat AV-8B dan dia juga menegaskan akan ada penundaan lebih lanjut dan kenaikan biaya dalam proses pembangunan karena masalah teknis pesawat dan perangkat lunaknya dan menyalahkan sebagian besar penundaan dan biaya tambahan pada pengujian yang berlebihan. Pusat informasi pertahanan mengatakan bahwa program ini akan direstrukturisasi dengan penambahan waktu keterlambatan dan biaya tambahan sebesar U.S$ 5 billion dan pada tanggal 5 november perangkat lunak pada pesawat Block 1 terbang pertama kalinya pada prototipe BF-4 meliputi informasi Fusi dan kemampuan awal melepaskan senjata.

prototipe pesawat BF-04
Desain
F-35 tampak lebih kecil, sedikit agak konvesional, bermesin tunggal sama dengan yang dipakai F-22 Raptor karena memang mengambil unsur dari situ, desain saluran pembuangan terinspirasi oleh desain model 200 General Dynamics yang diusulkan untuk persyaratan Pesawat Supersonic VTOL untuk kontrol di kapal laut tahun 1972. untuk pengembangan varian STOVL F-35B Lockheed Martin berkonsultasi dengan Biro desain Yakolev, pembelian data desain dari pengembangan Yakolev Yak -141 Free Style, walaupun desain eksperimen beberapa telah dibangun dan diuji coba sejak tahun 1960-an termasuk kegagalan Rockwell XFV-12 Navy. F-35B akan menjadi pesawat supersonik STOVL pertama yang beroperasi.

F-35 memiliki kecepatan maksimum lebih dari Mach 1,6 dengan berat lepas landas maksimum sebesar 60.000 lb (27.000 kg), Lightning II jadi lebih berat dari pesawat yang digantikannya, dalam berat kotor kosong maupun maksimum lebih mirip pesawat Republic F-105 Thunderchief, pesawat terbesar berkursi tunggal dan bermesin tunggal sejak era perang Vietnam. namun mesin modern F-35 memberikan 60% lebih daya dorong dengan berat yang sama dan dalam dorongan berat dan daya angkut sayap lebih mirip komparasinya dengan F-16 lengkap.

Asisten sekretaris Angkatan Udara Letnan Jenderal Markus D Shackelford mengatakan bahwa F-35 dirancang untuk pembunuh utama misil darat ke udara dan perlengkapan unik dalam misi ini dengan cutting edge processing power, synthetic aperture radar integration techniques dan pengenalan target yang lebih maju. Lockheed Martin juga menyarankan bahwa F-35 dapat menggantikan Pesawat USAF F-15C/D dalam peran superioritas udara dan F-15E Strike Eagle dalam peran serangan ke darat tetapi tidak mempunyai jangkauan atau muatan dari salah satu F-15 model. namun F-35A membawa persenjataan udara ke udara serupa dengan pesawat F-15SE Silent Eagle, ketika kedua pesawat dikonfigurasikan untuk misi pengamatan rendah dan mempunyai 80% lebih besar dalam radius peperangan pesawat.

Beberapa perbaikan dalam pesawat tempur generasi sekarang adalah :

  • Tahan lama, perawatan rendah, teknologi stealth, menggunakan anyaman serat karbon berstruktur menggantikan lapisan platform stealth lama dengan perawatan mahal.
  • Integrasi Avionik dan sensor fusi yang menggabungkan informasi dari luar dan papan sensor untuk meningkatkan kesadaran situasional pilot dan meningkatkan identifikasi sasaran dan pengiriman senjata serta untuk menyampaikan informasi dengan cepat ke perintah lain dan kontrol C2 nodes.
  • Jaringan data berkecepatan tinggi termasuk IEEE 1394b dan fibre channel.
  • Autonomic Logistic Global Sustainment (ALGS), Autonomic Logistic Information Sysyem (ALIS) dan Computerized Maintenance Management System (CMMS) membantu memastikan ketepatan waktu pesawat dengan tenaga perawatan minimal.
  • Electrohydrostatic actuators run by a power-by-wire flight control system.

Mayoritas struktur komposit dalam F-35 terbuat dari Bismaleimide (BMI) dan material komposit epoksi.

Mesin
Mesin utama F-35 adalah Pratt & Withney F135, General Electric/Roll Royce F136 sedang dikembangkan sebagai alternatif mesin. mesin F135/F136 tidak dirancang untuk supercruise dalam F-35, varian STOVL untuk pembangkit listrik keduanya memakai Roll Royce LiftSystem, dipatenkan oleh Lockheed Martin dan dibangun oleh Roll Royce. sistemnya seperti Yak-141 Rusia dan VJ-101D/E Jerman dari generasi sebelumnya yang STOVL desain, seperti Harrier Jump Jet dimana semua udara mengangkat melewati kipas utama mesin Roll Royce Pegasus.
Varian Mesin :

  • F135-PW-100 : untuk F-35A CTOL varian.
  • F135-PW-400 : untuk F-35C carrier varian.
  • F135-PW-600 : untuk F-35B STOVL varian.

Sistem pengangkat terdiri dari sebuah kipas pengangkat, poros penggerak, dua roll post dan tiga Bearing Swivel Module (3BSM). 3BSM adalah thrust vectoring nozzle yang memungkinkan knalpot mesin utama untuk dibelokkan ke bawah di ekor pesawat, kipas pengangkat berada dekat dengan bagian depan pesawat yang berfungsi sebagai penyeimbang daya dorong langsung, agak seperti turbofan vertikal yang dipasang di bagian depan pesawat, daya angkat kipas ini didukung oleh tekanan rendah turbin mesin melalui poros penggerak dan gearbox, kontrol putaran selama penerbangan pelan dicapai dengan mengalihkan udara bypass mesin melalui nozzle dorong sayap pasangan dan disebut Roll posts.

F-35B Lift fan mencapai efek flow multiplier sama seperti Harrier besar tetapi tidak praktis supersonik hanya kipas utama. seperti mesin pengangkat mesin ini hanya menambahkan bobot mati selama penerbangan horisontal tetapi memberikan kenaikan bersih kapasitas muatan selama penerbangan vertikal. knalpot pendingin dari kipas juga mengurangi jumlah panas, udara kecepatan tinggi yang diproyeksikan ke bawah pada saat vertikal take off dapat merusak landasan dan deck kapal induk, meskipun rumit dan beresiko sistem pengangkat telah dibuat bekerja untuk kepuasan pejabat DOD.

Sampai saat ini pembiayaan mesin F136 telah mengorbankan bagian lagi dari program, mengurangi jumlah pesawat produksi dan meningkatkan biayanya. team F136 telah mengklaim bahwa mesin mereka memiliki margin suhu terbesar yang dapat membuktikan kritik pada operasi VTOL dalam suhu panas dan kondisi ketinggian.

Di akhir 2008 Angkatan Udara mengungkapkan bahwa F-35 akan dua kali lebih keras saat lepas landas dari F-15 Eagle dan lebih empat kali lebih keras saat mendarat, sebagai hasilnya warga didekat pangkalan udara Luke Arizona dan pangkalan udara Eglin Florida sebagai pangkalan jet tempur telah meminta Angkatan Udara untuk melakukan studi terhadap dampak lingkungkan diakibatkan oleh tingkat kebisingan F-35. kota Valparaiso florida dekat dengan Eglin AFB pada bulan februari 2009 mengancam untuk menuntut di pengadilan kepada Angkatan Udara atas rencana kedatangan F-35 namun telah diselesaikan secara hukum pada maret 2010. selain itu dilaporkan pada maret 2009 bahwa test oleh Lockheed Martin dan Angkatan Udara Australia pesawat F-35 tidak sekeras seperti pertama kali dilaporkan hanya sekeras suara F-16 dan tidak seberisik suara F-22 Raptor dan F/A-18 Super Hornet. Pratt & Withney juga telah menguji versi daya dorong tertinggi F-135 sebagai tanggapan terhadap klaim GE F-136 mampu menghasilkan daya dorong lebih dari 43.000 lbf (190 kn) yang dihasilkan oleh F-135 awal, F-135 telah menunjukkan daya dorong maksimum lebih dari 50.000 lbf (220 kn) selama pengujian.

gambar mesin jet pratt & withney F135

gambar prototipe mesin GE F136 sebagai alternatif

gambar mekanisme mesin pada varian STOVL


gambar mesin Rolls Royce lift fan saat terbuka


gambar Three Bearing Swivel Module (3BSM)

F-35 diperlengkapi dengan persenjataan berbeda dengan pesawat tempur kebanyakan dan akan menjadi desain pesawat tempur di masa depan, karena memiliki bahan dan teknologi stealth maka penempatan persenjataan berada didalam badan pesawat (mock up) dan tidak ada cantelan eksternal untuk mendukung fungsi stealth. menggunakan meriam GAU-22/A four-barrel 25mm dengan 180 putaran dipasang secara internal pada varian F-35A dan dipasang secara eksternal pada varian F-35B dan F-35C dengan 220 putaran. pod senjata untuk varian B dan C akan memiliki fitur stealth, polong ini akan dapat dipergunakan untuk peralatan yang berbeda di masa depan seperti EW, peralatan pengintai atau mungkin radar yang menghadap kebelakang.
mekanisme penempatan senjata mungkin akan berbeda-beda di tiap varian karena pengaruh sisa ruang terutama pada varian B namun sebagian besar sistemnya seperti pada F-22 Raptor.

gambar mock up armament bay
gambar landing gear door stealth design

Stealth
F-35 telah dirancang untuk memiliki RCS rendah terutama disebabkan oleh pemilihan bahan yang digunakan untuk kontruksi termasuk serat fiber. berbeda dengan generasi sebelumnya F-35 dirancang dengan bentuk karakteristik observasi rendah. pesawat seperti F-15, F-16 dan F/A-18 penting untuk selalu membawa bahan bakar eksternal dalam jumlah besar tetapi tidak untuk F-35 karena karakter stealthnya membuatnya terbang tanpa bahan bakar ekternal, F-35 tidak memiliki Leading Edge Extension (LEX) seperti F-16 dan F/A-18 namun sebagai gantinya menggunakan stealth-friendly chines for fortex lift seperti yang dipakai pesawat SR-71 Blackbird. sebuah benjolan kecil berada didepan saluran udara mesin sebagai komponen dari Diverterless Supersonic Inlet (DSI) yang lebih sederhana, ringan dan stealth untuk memastikan aliran udara berkualitas tinggi ke mesin dalam berbagai kondisi.

Meskipun F-35 lebih kecil dari F-22 Raptor namun memiliki RCS lebih besar karena F-22 dirancang untuk lebih sulit dideteksi oleh semua jenis radar dan dari segala arah, F-35 disisi lain memanifestasikan penerimaan radar terendah dari aspek depan karena kompromi dari desain. permukaannya dibentuk untuk mengalahkan radar yang beroperasi pada X dan S band terbaik yang biasa dipakai oleh pesawat tempur, misil udara ke permukaan dan radar pencarinya. sementara pesawat akan kurang sulit mengamati dengan pengamatan radar pada frekuensi lain seperti L band, desain masih ditujukan pada pesawat yang lebih sulit dideteksi, dilacak dan yang terpenting tidak ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara yang beroperasi pada frekuensi X dan S band. para kru telah melakukan uji test Repair Verifikasi Radar (RVS) untuk menverifikasi RCS pesawat setelah melakukan perbaikan yang tidak menjadi perhatian bagi generasi pesawat sebelumnya yang non stealth.

Kokpit
F-35 memiliki panel penuh yang lebar, kokpit kaca dengan Panoramic Cockpit Display (PCD) dengan dimensi 20 x 8 inchi (50 x 20 cm), mempunyai DVI sistem buatan Adacel untuk meningkatkan kemampuan pilot untuk mengoperasikan pesawat di generasi mendatang, sistem ini juga diterapkan pada Dassault Rafale. F-35 akan menjadi pesawat tempur pertama Amerika yang akan memakai sistem ini meskipun sistem serupa telah digunakan di pesawat AV-8B dan diujicobakan di jet Amerika sebelumnya terutama F-16 VISTA.
Sebuah Helmet-Mounted Display System (HMDS) akan dipasang di semua model F-35 dan Helmet-Mounted Cueing System sudah digunakan pada pesawat F-15, F-16 dan F/A-18 sementara pesawat tempur lainnya juga menawarkan HMDS bersama Head Up Display. ini akan menjadi pertama kali dalam beberapa dekade bahwa garis depan taktis pesawat jet tempur dirancang untuk tidak membawa HUD sistem, F-35 juga dilengkapi dengan stik kontrol disebelah kanan.
Kursi lontar merk Martin Baker US16E digunakan pada semua varian F-35, didisain untuk mengimbangi kemampuan dalam persyaratan utama meliputi safe terrain clearance limits, pilot load limits dan pilot sizes, menggunakan sistem ketapel kembar yang bertempat di sisi rel.


gambar kokpit F-35 Lightning II


gambar panoramic cockpit display (PCD) F-35

gambar martin baker ejection seat

Avionik
Sensor dan perangkat komunikasi F-35 dimaksudkan untuk memfasilitasi kesadaran situasional, kontrol dan perintah serta kemampuan peperangan jaringan sentris. sensor utama di maiboard adalah radar AN/APG-81 AESA dirancang oleh Northrop Grumman Electronic System dan ditambah dengan Electro Optical Targeting System (EOTS) dipasang dibawah hidung pesawat dirancang oleh Lockheed Martin, ini memberikan kemampuan sama dengan Lockheed Martin Sniper XR untuk menghindari membuat pesawat mudah dideteksi.
Tambahan enam sensor pasif infra merah didistribusikan ke pesawat sebagai bagian dari Northrop Grumman AN/AAQ-37 Distributed Aperture System (DAS) yang bertindak sebagai sistem peringatan rudal, melaporkan lokasi peluncur rudal, mendeteksi dan mencari menjelang pesawat lain mendekati F-35 dan menggantikan kacamata pengelihatan dan navigasi malam tradisional. semua fungsi DAS ditampilkan secara serentak ke semua arah dan setiap waktu. AN/ASQ-239 (barracuda) Electronic Warfare System dirancang oleh BAE System termasuk komponen Northrop Grumman didalamnya. perangkat Comunication and Navigation Identification (CNI) dirancang oleh Northrop Grumman termasuk Mulifunction Advanced Data Link (MADL). F-35 akan menjadi jet tempur pertama yang memiliki fusi sensor yang menggabungkan kedua frekuensi radio dan pencarian infra merah untuk deteksi dan identifikasi target terus menerus di segala penjuru yang dibagi melaui MADL untuk platform lainnya tanpa mengorbankan pengawasan yang rendah.
F-35 telah dirancang dengan sinergi antar sensor sebagai persyaratan tertentu, dengan “indra” pesawat diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih kohesif dari realitas di sekitarnya, dan akan tersedia pada prinsipnya untuk digunakan dengan kemungkinan apapun dan kemungkinan kombinasi dengan satu sama lain. Semua sensor akan langsung masuk ke prosesor utama untuk mendukung misi seluruh pesawat. seperti contoh radar AN/APG-81 berfungsi tidak hanya sebagai multi-mode radar tetapi juga sebagai bagian dari sistem peperangan elektronik pesawat.
Tidak seperti pesawat sebelumnya seperti F-22 Raptor semua perangkat lunak untuk F-35 ditulis dalam program C++ untuk pengembangan kode yang lebih cepat. integritas DO-178B Real Time Operating System (RTOS) dari perusahaan Software Green Hills berjalan pada Prosessor Power PC COTS Freescale. perangkat lunak untuk pesawat block 3 F-35 direncanakan untuk memiliki 8,6 juta baris kode perangkat lunak. skala program telah menyebabkan krisis perangkat lunak dan pejabat memerintahkan untuk meneruskan pencarian perangkat lunak tambahan yang dibutuhkan. Jenderal Norton Schwartz mengatakan bahwa perangkat lunak adalah faktor terbesar yang menyebabkan penundaan kemampuan awal operasional (IOC) Angkatan Udara Amerika Serikat yang sekarang akan dijadwalkan pada april 2016.
Sistem peperangan elektronik F-35 dimaksudkan untuk mendeteksi pesawat musuh yang pertama yang kemudian akan dipindai dengan sistem elektro optical dan tindakan yang ikut diambil atau menghindari lawan sebelum F-35 terdeteksi.
Angkatan Udara Amerika Serikat berencana untuk mengupgrade armada F-22 Raptor dengan sensor modern dari F-35 akan tetapi belum ada anggaran dana untuk ini.


gambar radar AN/APG-81 AESA

gambar F-35 EOTS

Helmet Mounted Display System
Karena kecanggihan sistem sensor pad F-35 maka pengoperasian pesawat menjadi mudah karena sistem yang sudah terkomputerisasi dan berintegrasi satu sama lain termasuk teknologi Helm yang lebih maju sehingga semua informasi operasional pesawat langsung diterima oleh Helm, sensor menggunakan kombinasi antara frekuensi radio dan pencari infra merah (SAIRST) untuk melacak pesawat terdekat sementara helm HMDS menampilkan dan memilih target, sistem helm terbaru menggantikan fungsi Head Up Display yang dipakai oleh pesawat generasi sebelumnya.
Sistem F-35 menggeser sedikit demi sedikit fungsi observasi, orientasi, mengambil keputusan dan menggambil tindakan (OODA), fungsi stealth dan sensor bantuan yang maju dalam observasi, pelacakan target membantu dalam orientasi, fusi sensor menyederhanakan pengambilan keputusan dan kontrol pesawat yang memungkinkan tindakan pada target tanpa perlu berpaling dari target.
gambar HMDS F-35
F-35 dipersiapkan juga untuk peperangan elektronik menggantikan pesawat EA-6B Prowler US Marine meskipun pesawat terbaru generasi Super Hornet A-18 Growler sudah bertugas akan tetapi F-35 beda karena ini adalah pesawat stealth. F-35 akan memiliki kemampuan Cyber attack dimana radar AESA digunakan untuk menyerang dan menyisipkan kode kedalam sistem remote. desain ITT-Boeing untuk NGJ meliputi enam array AESA untuk semua jangkauan, team telah mendapatkan kontrak U.S$ 42 million untuk mengembangkan desainnya berdasarkan kemampuan ITT pada broadband electronically steerable antenna arrays pada saat yang sama kontrak juga diberikan kepada Raytheon, Northrop Grumman dan BAE System.

F-35A pertama (kode AA-1) telah diluncurkan di Fort Worth Texas pada 19 februari 2006, pesawat menjalani test tanah yang luas di Naval air station joint reserve base Forth Worth pada akhir tahun 2006. pada september 2006 mesin afterburner turbofan pada airframe F-35 pertama kali terbang dan test dinyatakan selesai, pertama kali F-35 dinyatakan berfungsi menyeluruh dengan sistem pembangkit sendiri. pada 15 desember 2006 F-35 melakukan penerbangan perdananya. sebuah pesawat Boeing 737-300 Lockheed CATBird modifikasi digunakan untuk menguji rangkaian Avionik dimana didalamnya terdapat rak gantung membawa Avionik dan semua bagian F-35.

Pada tanggal 31 januari 2008 di Forth Worth Texas Letkol James Kromberg dari USAF menjadi pilot militer pertama untuk mengevaluasi F-35, membawa pesawat melalui serangkaian manuver dalam penerbangan ke 26. F-35 AA-1 pada uji penerbangannya ke 34 mulai melakukan uji pengisian bahan bakar di udara pada maret 2008, tonggak lain dicapai pada 13 november 2008 ketika AA-1 terbang pada kecepatan supersonik untuk pertama kalinya, mencapai Mach 1,05 pada 30.000 kaki (9.144 m) membuat empat transisi melalui hambatan suara dengan total delapan menit penerbangan supersonik.

F-35B pertama (BF-1) melakukan penerbangan pertamanya pada 11 juni 2008, penerbangan yang menampilkan lepas landas konvesional dikemudikan oleh pilot penguji BAE System Graham Tomlinson, BF-1 adalah yang kedua dari 19 System Development and Demonstration (SDD) F-35 dan yang pertama menggunakan fitur desain beban berat optimal yang akan diaplikasikan pada F-35 di masa depan. pengijian sistem propulsi varian STOVL dalam penerbangan dimulai pada 7 januari 2010, sistem STOVL digunakan dalam 14 menit dari 48 menit test penerbangan sambil pesawat melambat pada 210 knot (390 km/jam) sampai 180 knot (330 km/jam). F-35B pertam melayang-layang ( berhenti penuh diudara ) terjadi pada 17 maret 2010 diikuti dengan pendaratan STOVL, dan pada 18 maret 2010 pendaratan vertikal pertama kali dilakukan. selama test penerbangan pada 10 juni 2010 F-35B menjadi pesawat kedua yang melakukan penerbangan supersonik yang pertama adalah pendahulunya X-35B yang melakukan prestasi yang sama pada 10 juli 2001.

Meskipun banyak dari target uji terbang awal telah dicapai, program pengujian F-35 selesai “hanya di bawah 100 sorties dan tentang banyaknya waktu dalam 2,5 tahun” pada Juni 2009 dan jatuh secara signifikan di belakang jadwal. Pentagon Bersama Perkiraan Tim (JET I) pada 2008 memperkirakan bahwa program itu dua tahun di belakang jadwal umum terbaru, dan Perkiraan 2009 Bersama Tim (JET II) direvisi bahwa perkiraan untuk memprediksi penundaan selama 30 bulan. Karena keterlambatan mereka dalam pengujian program, angka produksi akan dikurangi dengan 122 pesawat sampai 2015 dalam rangka untuk menyediakan dana tambahan untuk pembangunan.dana tambahan tersebut akan menambah 2.8 miliar dolar untuk dana pengembangan dan memo internal menunjukkan bahwa waktu resmi akan diperpanjang 13 bulan ( bukan 30 bulan dalam prediksi tim JET II ). Keberhasilan Bersama Tim Estimate telah menyebabkan Ashton Carter untuk memanggil untuk tim tersebut lebih banyak untuk proyek-proyek Pentagon yang berkinerja buruk.

Hampir 30 persen dari semua test penerbangan telah diperlukan lebih dari pemeliharaan rutin untuk mendapatkan pesawat yang siap terbang. Pada Maret 2010, program F-35 yang telah menggunakan satu juta lebih jam terbang dari yang diperkirakan dan pengujian penerbangan diharapkan mengakibatkan perubahan desain lebih lanjut. Angkatan Laut Amerika Serikat telah memproyeksikan bahwa siklus biaya selama 65 tahun armada tugas untuk semua F-35 Amerika akan US$ 442 billion lebih tinggi dari Angkatan Udara AS telah memproyeksikan.

Penundaan dalam program F-35 dapat menyebabkan kekurangan sekitar 100 jet tempur dalam tim Angkatan Laut / Marinir sehingga lebih hati-hati memanajemen dalam perpanjangan layanan F/A-18 warisan Marinir dan beban lebih ditempatkan pada pesawat tempur Angkatan Laut yang dimungkinkan untuk menutup kekurangan ini.

penerbangan perdana Varian F-35C berlangsung pada tanggal 7 Juni 2010, juga di Fort Worth NAS JRB. Penerbangan 57 menit dieksekusi oleh test pilot Lockheed Jeff “Slim” Knowles, yang adalah kepala penguji untuk program F-117. total 11 pesawat F-35 USAF akan tiba pada tahun Anggaran 2011.

F-35 rencananya akan dibuat dalam tiga varian, F-35A, F-35B dan F-35C namun dikedepannya akan dibuat Varian F-35I versi export/ internasional pesanan Israel dimana spesifikasi pesawat akan sama namun mempunyai tambahan fitur peperangan elektronik terintegrasi buatan Israel sendiri namun pihak Amerika menolaknya dan mengijinkan jika sistemnya bersifat plug and play atau add-on mode dan seperti biasa untuk persenjataan Israel selalu memakai rudal dan bom buatan mereka sendiri. namun sejauh ini pihak yang akan mendapatkan pesawat F-35 adalah Inggris terlebih dahulu mengingat peran pemerintah Inggris dalam pengembangan JSF F-35 dan sejauh ini belum terkirim dikarenakan masih banyak masalah dalam pengembangan F-35 mengingat kebutuhan Inggris untuk menggantikan peran pesawat Harrier yang akan mulai pensiun untuk mengisi armada Kapal Induknya dan varian yang diinginkan adalah F-35B mengingat karakter kapal induk Inggris yang tidak menggunakan catapult melainkan menggunakan skyjump untuk take off pesawat.

Armament

  • Guns: 1 × General Dynamics GAU-22/A Equalizer 25 mm (0,984 in) 4 barreled gatling cannon, internally mounted with 180 rounds.
  • Hardpoints:6 × external pylons on wings with a capacity of 15,000 lb (6,800 kg) and 2 × internal bays with 2 pylons each for a total weapons payload of 18,000 lb (8,100 kg) and provisions to carry combinations of.
    • Missiles:
      • Air-to-air: AIM-120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9X Sidewinder, IRIS-T, Joint Dual Role Air Dominance Missile (JDRADM) (after 2020).
      • Air-to-ground: AGM-154 JSOW, AGM-158 JASSM.
    • Bombs:
      • Mark 84, Mark 83 and Mark 82 GP bombs.
      • MK-20 Rockeye II cluster bomb.
      • Wind Corrected Munitions Dispenser capable.
      • Paveway series laser-guided bombs.
      • Small Diameter Bomb (SDB).
      • JDAM series.
      • B61 Nuclear Bomb.

Leave a comment »